Pengelolaan Sex Manusia:Laki-laki dan Perempuan

Peristiwa yang sangat menarik diperhatikan saat ini adalah perkawinan singkat Bupati Garut Jawa Barat dan hal itu dapat dibicarakan dengan perspektif banyak disiplin ilmu. Pembicaraan tentang hal tersebut dalam perspektif biologi akan berkaitan dengan masalah hormon-hormon manusia dan perubahan biokimia tubuh, peralatan seksual, menghasilkan generasi dan masalah genetika, pengobatan baik secara herbal dan/atau kimia maupun genetik. Dalam perspektif agama perkawinan akan lebih tepat dengan istilah pernikahan karena perkawinan dapat berlaku semua jenis hewan dan manusia tetapi pernikahan akan lebih spesifik kepada jenis manusia. Perspektif agama memberikan prinsip hak dan tanggungjawab pelaku dalam sistem, penulis menganggap demikian, yaityu apa yang diistilahkan dengan keluarga. Dalam perspektif keduanya secara akademik akan dibicarakan dalam lingkup interdisipliner dan hal itu dapat dilakukan oleh suatu tim atau individual.
Pembicaraan yang amat sangat pendek ini memberikan anggapan yang diambil dari supra sistemnya bahwa berkeluarga adalah perintah agama (Islam). Tuhan memberikan perintah berkeluarga melalui nabi dan rasulnya, kalau dianggap sebagai suatu sistem, dapat dilihat input dan outputnya: untuk pernikahan dan persyaratnnya serta hasil-hasil berkeluarga. Hasil berkeluarga dalam tinjauan interdisipliner itu adalah produk generasi manusia dan sosial ekonomi serta sebagai manusia adalah amal sholeh. Oleh karen itu para ulama memberikan 5 tujuan syariah.
Generasi manusia secara sah (diturunkan sebagai produk hukum agama maupun positip) dengan sistem yang telah didekatkan kepada kebenaran agama dan ini merupakan keniscayaan dengan pandangan hidup bangsa INDONESIA seperti dalam sila pertama. Realitas adanya departemen agama di Indonesia yang merupakan pelaksana undang-undang, jelas anggapan sistem kepada bentuk keluarga ada benarnya. Secara logis dapatlah diajukan pertanyaan apakah aktivitas seksual antara laki-laki dan perempuan dalam berkeluarga itu sebagai subsistem?
Perspektif Biologi memberikan penjelasan dalam keadaan normal, aktivitas seksual dapat menghasilkan keturunan. Tubuh sebagai sistem akan memberikan outputnya berupa sperma dan bagaimana bertemunya sel kelamin laki-laki dan perempuan dengan unsur sistem organ-organ yang dimiliki oleh jenis manusia. Sebagai subsistem oleh kitab suci agama Islam menggambarkan, bahwa aktivitas seksual dalam berkeluarga seperti petani menanam benih tanaman. Bagaimana cara mencangkulnya diserahkan kepada petani dan bagaimana kondisi tanah sebagai tempat menanamnya.
Science didalamnya termasuk teknologi sebagai aplikasi menemukan sistem tanpa kopulasi antara laki-laki dan perempuan untuk menghasilkan keturunan. Hal ini dapat dilakukan dengan sistem tabung dalam mempertemukan kedua sel kelamin. Fakta telah nampak keberhasilan teknologi itu. Penulis sejak tahun 1995 memberikan pendapat sebagai analogi subsistem seksual dan sistem berkeluarga, bertemunya kedua sel kelamin laki-laki dan perempuan wajib dalam ikatan pernikahan.
Aktivitas seksual manusia yang menghasilkan keturunan maupun tidak berada di luar sistem pernikahan tidak menunjukkan motif dan/atau tujuan output sistem yang lebih tinggi itu. Hal demikian telah secara real sebagai aktivitas jasa, dan jelas dilarang oleh agama dengan konsekwensi hukuman.
Bagaimana aktivitas seksual yang berada dalam sistem pernikahan tetapi spiritnya tidak sesuai sistem itu yang dibentuk oleh agama? diturunkan lagi kepada hukum positif?
Sepengetahuan penulis pelaksana undang-undang juga telah mendekatkan prosedur-prosedur agar dapat diukur apakah berada dalam sistemnya. Mengapa demikian? sebab kita berada di dunia bukan di akherat yang juga terdapat pengelolaan aktivitas seksual dan dengan sistem yang berbeda pula.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *