Karakter Cuaca Milenium untuk Keberlanjutan

Ahmad Syauqi

Edisi Revisi

Memasuki musim hujan tahun ini ditandai oleh peristiwa banjir yang membawa korban di Bandung dan Gorontalo. Korban tewas di Bandung terbawa oleh arus dan ditemukan di saluran drainase. Sedangkan di Gorontalo tercatat 2 904 kepala keluarga atau 9 686 jiwa warga menjadi korban (Azhar, 2016). Peristiwa banjir dalam satu dekade terakhir banyak terjadi di kota-kota besar dan daerah yang berdekatan dengan aliran sungai. Sebab yang nampak adalah perubahan cuaca yang tidak menentu dengan akibat curah hujan tinggi, aliran udara yang bercepatan tinggi ditandai oleh angin puting beliung. Tanda-tanda lainnya adalah adanya ombak tinggi di lautan dan pesisir atau pantai, hal ini juga disebabkan oleh aliran udara sangat cepat (Shiva, 2002)1. Pemanasan global membawa sebab bertambah banyaknya penguapan air laut dan kuantitas awan bertambah.

Perubahan alam menunjukkan kekacauan cuaca sehari-hari yang beberapa puluh tahun lalu sangat berbeda dengan saat ini. Korban perubahan alam ini tidak hanya banjir tetapi longsor di daerah perbukitan, para nelayan tidak dapat melaut untuk mendapatkan ikan sebagai mata pencaharian mereka. Sejak tahun 1970an telah banyak pemikiran dan pertemuan oleh para ahli dari berbagai Negara di dunia ini membicarakan dan mensikapi perubahan alam. Sebab utama adalah oleh akibat adanya gas rumah kaca dengan perubahan suhu permukaan bumi yang semakin panas.

bandungbanjir

Repro: 1Berita.com

Kemajuan pemikiran dan sikap yang diambil telah menjadi gerakan global adalah adanya pendekatan terhadap dampak lingkungan yaitu memberikan pendidikan lingkungan. Harapan yang diinginkan adalah masyarakat memiliki persepsi yang perlu berubah seiring dengan kehidupan abad 21. Sejak tahun 1990an isu penting adalah energi terbaharukan, makanan, air, energi panas dan kebijakan; Tahun 2005 tentang keberlanjutan kehidupan generasi dengan satu planet,  bantuan dan penanganan (stewardship) termasuk di dalamnya etika dan moral, sains, tema integrasi tentang globalisasi, kapital ekosistem, politik dan kebijakan  (Kimmin, 2004; Wright, 2005).

Upaya para pemerintah menunjukkan berbagai layanan bantuan dan penanganan terhadap bencana alam dan dampaknya memasuki arena perlombaan. Dalam konsep dampak disebutkan bahwa terdapat dua sisi yang akan bertemu pada titik tertentu yaitu terus antara melakukan pembangunan untuk kesejahteraan dan akibat yang kembali kepada masyarakat berupa resiko yang diterima. Banjir di Bandung merupakan contoh adanya titik temu hal itu yaitu pembangunan kota yang tidak dapat dihindari adanya alih fungsi lahan atau tata guna lahan banyak berubah bangunan (Aprilliyana, 2016) dan lainnya di Indonesia atau bahkan kota-kota yang telah terjadi banjir di Negara lain.

Pertanyaan yang ingin diajukan adalah mengapa perhatian kepada satu sisi akibat yang kembali kepada masyarakat berupa resiko yang diterima terabaikan? Hal ini sebagaimana tersebut di atas telah terjadi secara global. Tulisan ini bertujuan untuk melihat satu sisi akibat tersebut dengan menarik kepada sebab yaitu memenuhi istilah efek lingkungan. Asumsi tulisan ini adalah resiko akan diterima oleh semua lapisan/sektor di dalam masyarakat.

Satu sisi telah nyata di hadapan kita bahwa peningkatan kesejahteraan masyarakat diperlukan peningkatan aktivitas sehari-hari masyarakat untuk dapat menaikkan pendapatan yaitu aktivitas ekonomi. Pertumbuhan ekonomi diperlukan untuk memberikan akses seluas-luasnya dan hal itu banyak perubahan yang dilakukan. Logika ini tertuju kepada apa yang kita kenal istilah pembangunan. Membuat momentum yang terus berputar agar diperoleh suatu vektor perolehan pendapatan merupakan hukum alam sehingga tidak terjadi stagnan bidang perekonomian dengan akibat tanpa kesejahteraan material. Titik pandang hal ini adalah eksploitasi sumberdaya alam, dan memang telah disediakan oleh Tuhan kepada kehidupan manusia.

Sebelum mencermati lebih jauh tentang apa yang baik dan buruk untuk mengambil kekayaan alam yang memang ditujukan kepada manusia di dalam kehidupan sehari-hari, uraian di atas untuk awal millennium saat ini telah tersebut soal moral. Hal itu menegaskan bahwa perhatian kepada upaya untuk menaikkan kesejahteraan, banyak peristiwa lupa kepada apa yang baik dan buruk bila alam telah diubah. Perubahan alam yang sederhana sesuai konteks tulisan ini adalah terjadi masyarakat urban yang di dalamnya terus menerus terjadi perputaran ekonomi.

Perputaran ekonomi itu membutuhkan tempat tinggal, tempat aktivitas nyata pemenuhan kebutuhan dan produksinya, tempat untuk rehat sejenak, tempat untuk rehat agak lama hingga rehat terpenuhi yang disebut liburan. Tempat untuk urusan administrasi di kantor-kantor milik swasta, kantor milik pemerintah, kantor milik perseorangan dan sebagainya. Tempat-tempat itu menempati gambaran keseluruhan lahan dengan minimum 30% ruang terbuka dan berbagai persyaratan ketat yang dikenakan pada suatu tempat urban maupun suburban.

Efek lingkungan dengan faktor curah hujan tinggi dan tersedianya saluran drainase termasuk daerah resapan adalah soal air. Hukum alam telah kita ketahui bahwa air akan mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah. Bandung Selatan sebagai tempat yang lebih rendah dibanding Bandung Utara menunjukkannya hal itu (Aprilliyana, 2016; https://rovicky.wordpress. com/2010/02/19/kenapa-bandung-banjir/). Demikian pula kota-kota lainnya yang terjadi peristiwa banjir. Syarat ketat kepada aliran air sebagai material yang mempunyai energi dalam alirannya diperlukan sarana tersendiri untuk memenuhi semua itu. Bila tidak demikian, air tetap akan memenuhi hukumnya dengan energi yang dibawa, menerjang semua dimana air mengalir khususnya dalam volume yang demikian besarnya oleh curah hujan tinggi.

Efek tersebut yang menyebabkan apa yang kita lihat pada peristiwa banjir, walaupun selang beberapa hari akan surut dan hilang. Sebagaimana hal di atas, mengapa surut dan hilangnya air hujan membawa korban dan resiko lainnya? Bila persyaratan ketat telah diberikan atau disediakan drainase yang cukup, faktor lainnya adalah nyata dihadapan kita terjadi penyumbatan saluran yang tidak lain material sampah padat, dan/atau pendangkalan saluran oleh sedimen. Pendekatan terhadap hal sampah telah terbangun upaya-upaya dengan pola tertentu yang khas di setiap masyarakat urban yaitu penanganan pembuangan, bahkan bank sampah, daur ulang agar tidak membawa kepada efek lingkungan yang lebih buruk.

161930_620

Repro:Tempo.co Nasional

Oleh karena itu arena nyata saat ini adalah perlombaan oleh masyarakat terhadap kesejahteraan dan efek lingkungan. Pendekatannya tertuju kepada kesadaran kita terhadap resiko efek aliran air yang perlu diseimbangkan dengan laju peningkatan kesejahteraan. Konsep yang diajukan untuk mengurangi resiko banjir adalah

  • Saat musim kemarau tiba, kebutuhan aktivitas sains yang nyata untuk memilih tempat berlabuh volume air yang besar di areal lahan lebih rendah. Istilah pelabuhan air ini dapat berupa waduk, embung-embung yang secara kuantitas lebih banyak dan mempunyai kedalaman lebih. Pendekatan kepada hal ini dapat berupa saluran drainase kecil berjumlah banyak dan/atau berupa sungai baru yang dibuat. Resiko lanjutan kepada program-program terkait dapat diperkecil dengan diperoleh/ pemanfaatan anggran pemerintah untuk desa dan perkotaan atau swasta dengan corporate social responsibility (CSR) atau gotong-royong masyarakat domestik. Dapat pula melakukan pendekatan ekonomi-resiko antara lain bila tempat yang rendah merupakan suatu lahan yang membutuhkan pembebasan yang tertanggung.

Video Peran perusahaan kepada masyarakatnya dan berita tentang embung

 

Embung Wisata Gung Kidul Yogyakarta

  • Gerakan pendidikan lingkungan tidak hanya di dalam aktivitas formal seperti sekolah tetapi semua aktivitas sebagaimana pendekatan untuk membangun pola-pola pembuangan sampah padat melalui Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW). Gerakan ini perlu ditunjang untuk memfasilitasi insiatif dari struktur terbawah tersebut. Dapat pula berkolaborasi dengan swasta melalui CSR. Materi pendidikan lingkungan ditujukan kepada pengenalan resiko karakteristik aliran air, daerah resapan dan sumber air serta tanah longsor.

Capaian yang diinginkan dengan terus-menerus adanya pemantauan adalah bangunan persepsi masyarakat yang semakin menuju kesadaran kepada efek lingkungan berupa penampungan volume besar air, air surut dan hilang tidak membawa korban dan justru dengan pengelolaan penampungan dapat berguna/memperoleh manfaat pada musim kemarau selanjutnya, berdaya sebagai sumber air pada daerah/tempat yang lebih rendah dari tampungan (reservoir).

Semoga kita mendapat pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin.

____________

1) Bulan OKTOBER 1999; angin topan di Negara bagian Oryssa India Timur terjadi dan merusak 1,83 juta rumah, 1,8 juta hektar persawahan di 12 distrik pesisir dengan korban 20.000 orang, 300.000 ternak binasa, 15.000 kolam terkontaminasi garam yang larut dalam tanah. Tahun 2001 daerah itu mengalami kekeringan terburuk sepanjang sejarahnya dan musim hujan diterpa banjir terburuk; 600.000 desa terdampar, 42 orang tewas dan 550.000 hektar sawah hancur. Pada musim hujan suatu bendungan Hirakud harus melepaskan air sebanyak 13 juta meter kubik perdetik

Referensi

Aprilliyana, M.I. 2016. Bencana Banjir Bandung Selatan (Studi Kasus Kelurahan Baleendah Kabupaten Bandung). Akses 29 Oktober 2016. URL: https://www.scribd.com/doc/ 58813499/Paper-Bencana-Banjir-Bandung-Selatan

Azhar, R (Kontributor). 2016. Banjir Bandang di Gorontalo Meluas hingga Sembilan Kecamatan. Kompas.com. Akses Tanggal 29 Oktober 2016. URL: http://regional. kompas.com/read/2016/10/26/18122711/banjir.bandang.di.gorontalo.meluas.hingga.sembilan.kecamatan.

Kimmins, JP. 2004. Forest Ecology. A Foundation for Sustainable Forest Management and Environmental Etics in Forestry. Third Edition. Pearson Prentice Hall Pearson Education. Inc. New Jersey.

Liddle, R.W. 2015. Visi Jokowi. Segmen Opini Harian Kompas Selasa 17 Nopember. Hal 6 kolom 2-5.

https://rovicky.wordpress. com/2010/02/19/kenapa-bandung-banjir/

Jawa Pos. 2016. Tantangan Mengejar Daftar Lebih Panjang Target Capaian Pembangunan Global MDGs Terseok, Ditimpa SDGs. Segmen Otonomi Update. Sabtu 30 Januari. Hal.2 Kolom 3-6.

Shiva, V. 2002. Water Wars Privatisasi, Profit dan Polusi (Penerjemah Ahmad Uzair). Insist Press-Walhi. Yogkarta. Hal 45-46.

Wright, R.T. 2005.  Environmental Science toward a Sustainable Future. International and ninth Edition. Pearson Prentice Hall-Pearson Education Inc. New Jersey. Hal:14.

Suatu Pengabdian kepada Masyarakat dari Dosen MK Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)  Jurusan Biologi FMIPA Unisma