Lebaran yang Menyenangkan

Pengantar
Lebaran secara manusiawi merupakan fitrahnya, sebab telah banyak menaklukkan hawa nafsunya sendiri dengan bimbingan Tuhan Yang Maha Kuasa. Secara sosial idealnya akan mempunyai dampak yang positip yaitu adanya fitrah sosial, paling tidak diantara mereka yang berlebaran. Fitrah sosial dapat diartikan atas interaksi manusia yang terjadi dalam lingkungan semua “merasakan” nikmat. Layaknya makanan, nikmat itu enak yang susah untuk dideskripsikan dengan kata-kata bahkan dengan cara apasaja. Atau ada hubungan dalam sosial manusia yang masing-masing setara dengan “enjoy”.

Faktor yang berpengaruh antara lain pada event perayaan, pelaku perayaan memiliki dan merasakan adanya kebersamaan. Oleh karena itu apakah lebaran tahun ini dapat bersama-sama pada suatu hari? Analisis Ahmad Syauqi ada dalam tulisan ini dengan uraian pendahuluan, model sains dan ilmu, prediksi untuk diuji.

PENDAHULUAN
Perayaan merupakan even yang bergembira di kalangan umat manusia dimanapun mereka berada dan bagi orang Islam perayaan hari 1 syawal disebut hari raya ‘idul Fitri. Hari dimana diperbolehkan mengenakan segala yang bagus-bagus tentang pakaian dan makanan untuk ditunjukkan kepada sanak kerabat; suasana yang bergembira menurut ukuran orang pada umumnya. Kapan hari raya tersebut dilaksanakan? Jawaban akan berbeda-beda menurut komunitas atau organisasi masyarakat muslim tergantung pengetahuan dan dasar yang dipegangnya baik sains maupun ilmu agama. Orang yang tergolong awam tentang dasar dan penentuan waktu tanggal 1 syawal menurut sains dan seperti yang diajarkan akan mengikuti keputusan para ‘ulama.

MODEL SAINS DAN ILMU
Bagaimana penentuan bulan syawal dikerjakan dan untuk tahun ini masih ada waktu mengkajinya. Keingintahuan tentang penentuan tanggal 1 syawal tiap tahun menjadi lebih diminati oleh khalayak, bila realitas orang melaksanakan perayaan idul fitri tidak sama bagi sekelompok masyarakat atau organisasi masyarakat muslim. Realitas yang berbeda itu, diduga berasal atau dimulai dari metode/jalan untuk menetapkan tanggal tersebut. Metode penetapannya diketahuii dengan istilah menghitung (hisab), pengamatan (rukyah) dan gabungan keduanya hisab-rukyah.
Metode tersebut dapat dikategorikan sebagai pengetahuan empiris dan bila demikian halnya maka unsur sains membutuhkan kategori pengetahuan yang disebut konsep menjawab masalah. Konsep pengetahuan sudah diajarkan oleh Allah SWT melalui nabi SAW seperti ada planet bulan, matahari dan bumi dan/atau dengan kekuatan akal-budi manusia. Ajaran planet-planet telah diperkaya oleh manusia itu sendiri dari pengamatan real dalam kehidupannya. Pengetahuan kategori memperkaya ajaran Allah SWT berkenaan planet merupakan kisah sepanjang sejarah manusia atau lebih tepatnya sejarah sains berkenaan planet. Tokoh-tokohnya memberikan metode-metode untuk dapat memiliki pengertian (-2-) berkenaan planet.
Telaah terhadap ajaran Islam berkenaan hal tersebut ternyata ajaran Islam merupakan ultimate knowledge yang dikategorikan sebagai sains. Pengetahuan jenis ini sekarang sebagai hasil pemikiran panjang sejak para pelopor pemikiran di Yunani, Islam dan Barat, mensyaratkan bukti yang nyata agar konsep-konsep terus-menerus masih dapat digunakan. Islam melalui ajaran nabi SAW telah menyediakan syarat tersebut dan berkenaan dengan penentuan tanggal 1 syawal digunakan prosedur pengamatan yaitu ajaran rukyah bulan sabit (hilal -3-).
Konsep berkenaan planet-planet di ruang angkasa tidak terlepas dari bagaimana mereka beredar dan hal itu sarat dengan pekerjaan menghitung yang melibatkan ilmu matematika untuk memperoleh pengertiannya. Pengetahuan jenis konsep ini merupakan pengetahuan yang masih abstrak. Pekerjaan menghitung ditujukan memrediksi dimana suatu planet berada saat sekarang dapat dikerjakan dengan menggunakan komputasi (menghitung) angka-angka dalam persamaan matematikanya. Persamaan-persamaan yang demikian rumit dan banyak memberikan peluang untuk diuji atau dites apakah prediksi yang ditemukan benar adanya. Uji dapat dilakukan dengan cara mencari bukti agar dapat dikategorikan sains atau pengertian menurut akal manusia.
Mengapa demikian? Jawabannya diperoleh dari ajaran Islam juga yaitu Allah SWT mengajarkan bahwa pengetahuan manusia khususnya berimplikasi dengan wilayah hukum (syari’at) Islam, beberapa diperlukan bukti yang jelas dan real. Bekenaan dengan posisi planet untuk menentukan awal bulan syawal termasuk kategori itu. Sedangkan bukti kategori ini menunjuk bulan dan manusia tidak berdaya sedikitpun tentang factor-faktor yang berpengaruh terhadap garis dan waktu peredaran planet bulan. Allah SWT saja yang mengetahui dan berkuasa tentang segala hal termasuk planet bulan yang akan dijadikan barang bukti. Apa yang telah diketahui manusia dengan sains dapat saja tidak berlaku hanya karena Allah SWT berkehendak merubah hukum alam yang telah di buat-Nya. Demikian pula posisi bulan saat berada di ufuk barat.
Posisi planet diketahui manusia melalui potensi akal-budinya dan hal ini disamakan dengan pengetahuan tradisi sebagaimana yang disebut dengan istilah kearifan lokal, budaya, dsbnya. Dalam istilah sains, pengetahuan diperoleh dari observasi terus-menerus dalam waktu yang panjang dan melibatkan cara/metode yang sistematis. Observasi merupakan langkah yang paling awal dalam membangun sains. Sains tanpa dikaitkan dengan agama, akan membentuk pengertian tentang subyek yaitu planet dari berbagai sudut pandang, misalnya bagaimana gerakan bulan relatif dengan bumi, relatif dengan matahari. Dalam konteks tulisan ini maka perlu pengetahuan posisi bulan, relatif terhadap matahari dan bumi. Pengetahuan termasuk dalam hal demikian seperti hasil analisis ilmiah astronomis dari LAPAN dan digunakan sebagai kriteria metode hisab-rukyat yang dikembangkan. Kriteria hisab-rukyat telah mendekati kriteria internasional (Djamaluddin, 2007), sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Kriteria Kondisi Hilal Berdasar Posisi Relatif Bulan dan Matahari
————————————————————————–
———–Beda Azimut————Tinggi Minimum (derajat)
————————————————————————–
—————— 0,0*—————— 8,3
—————— 0,5 —————— 7,4
—————— 1,0 —————— 6,6
—————— 1,5 —————— 5,8
—————— 2,0 —————— 5,2
—————— 2,5 —————— 4,6
—————— 3,0 —————— 4,0
—————— 3,5 —————— 3,6
—————— 4,0 —————— 3,2
—————— 4,5 —————— 2,9
—————— 5,0 —————— 2,6
—————— 5,5 —————— 2,4
—————— 6,0 —————— 2,3

————————————————————————–
*) Bulan dalam kondisi tepat berada di atas matahari saat terbenam
Sumber: Djamaluddin (2007)

Hasil pengertian atau sains posisi planet-planet dari ilmuwan, sudah menjadi tradisi untuk dapat menyajikan dalam bentuk yang sederhana sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh mereka dapat dengan mudah dimengerti oleh para awam dan bahkan dibuktikan benar tidaknya. Menurut pendapat penulis dalam hal ini, ajaran Islam memberikan metode pembuktian dari hadits nabi SAW yaitu melakukan rukyah sebagai unsur bangunan/bentuk pengetahuan sains dan karena yang memberikan ini adalah utusan Allah SWT, maka kategori pengetahuannya termasuk dalam pengetahuan agama juga. Bila seseorang dapat memperoleh pengertian berkenaan pembuktian ini dapat dikategorikan memiliki ilmunya (-4-); bukan hanya sains saja.
Pada level tingkat manusia biasa (bukan nabi dan/atau rasul) ada yang memberikan gambaran menyerupai sebenarnya atau deskripsi dengan gambar di ruang angkasa misalnya dengan model-model tertentu menggunakan komputerv. Namun aplikasi-aplikasi komputer dalam konteks ini dapat dikategorikan masih sebagai kategori hisab, sebab belum mempunyai bukti yang real, yaitu diistilahkan dengan pengambilan data dan analisis, dan/atau konfirmasi para ahli serta dapat pula bentuk verifikasi. Data dan analisis telah disajikan dalam tabel 1 merupakan dukungan terhadap rukyatul hilal yang dilakukan untuk dapat mengambil keputusan yang mempunyai implikasi hukum syariat dalam waktu pelaksanaan perayaan idul fitri.
Aplikasi mooncalc oleh seorang ahli (scientist and ‘alim) Dr. Manzur Ahmed memberikan compute posisi hilal pada tanggal 18 Agustus 2012 untuk markaz Malang Jawa Timur Indonesia sebagaimana dibawah. Pada tanggal 18 Agustus 2012 bagi mereka yang mengawali puasa Ramadlon pada 21 Juli 2012 merupakan hari ke 29 dan akan dilakukan rukyat. Sedangkan yang mengawali sebelumnya terhitung hari ke 30. Hasil compute untuk hari ke 29 bagi awal puasa Ramadlon tanggal 20 Juli; kondisi hilal tanggal 17 Agustus 2012 disebutkan bagian pertama dan tanggal 18 Agustus pada bagian kedua.
Pertama:
1. Saat matahari terbenam 0,024o pada pukul 17.28.10 posisi hilal pada -5,209o atau hilal berada dibawah ufuk.
2. Beda azimuth 9,46o
3. Saat matahari 5o di bawah ufuk pada pukul 17.46. 47 posisi hilal pada -9,6o (di bawah ufuk).
4. Fraksi luas bulan sabit sebesar 0,25% saat kondisi point 2.
5. Bulan tidak tergolong baru
Kedua:
1. Saat matahari terbenam 0,017o pada pukul 17.28.10 posisi hilal pada 7,115o atau hilal berada diatas ufuk.
2. Beda azimuth 10,31o
3. Saat matahari 5o di bawah ufuk pukul 17.46. 47 hilal pada 2,813o (di atas ufuk).
4. Fraksi luas bulan sabit sebesar 0,93% atau tergolong 1% saat kondisi point 2.
5. Telah terbentuk bulan baru pada hari tanggal 17 Agustus 2012.

Hasil kategori pertama dan kedua dapat menggunakan pedoman yang dihasilkan oleh musyawarah ormas Islam pada tahun 2005 dan terdapat 3 pilihan yang diajukan yaitu pertama, kriteria oleh LAPAN sebagaimana tabel 1 dan umur hilal selama 8 jam. Kedua, posisi bulan berada di atas ufuk saat waktu maghrib dengan memberikan kondisi ketinggian minimal 2o di ata ufuk. Ketiga, fraksi luas bulan sabit. Dengan demikian didapatkan hasil komputasi mooncalc tersebut di atas, bahwa kondisi bulan sabit (hilal);
– Saat matahari terbenam tidak terpenuhi kriteria/pilihan pertama, beda azimuth matahari dan bulan (saat setelah ijtima’ ) > 6o.
– Kriteria/pilihan kedua dipenuhi oleh komputasi tanggal 18 Agustus 2012 bulan sabit berada di atas ufuk setinggi 2,813o saat matahari 5o di bawah ufuk sebagai penglihatan terbaik terhadap hilal
– Kriteria/pilihan ketiga dipenuhi oleh komputasi tanggal 18 Agusts 2012 yaitu sebesar 0,93% atau 1 %.

Makna analisis di atas adalah tanggal 1 syawal jatuh pada 19 Agustus 2012 dan bagi mereka yang berpuasa dimulai tanggal 20 juli 2012 umur bulan Ramadlon 30 hari. Sedangkan mulai tanggal 21 Juli berpuasa selama 29 hari. Menurut Nawawi (2007) kosep dari Muhammadiyah memberikan pengertian bahwa wujud hilal terpenuhi bila bulan pada tanggal 29 petang belum terbenam ketika matahari terbenam. Sedangkan pada tanggal 17 Agustus 2012 untuk umur 29 hari bulan berada di bawah ufuk yaitu dalam keadaan terbenam saat matahari terbenam; yang berarti hilal tidak terpenuhi.
Secara sains yaitu menurut model yang dikerjakan oleh aplikasi komputer mooncalc oleh Dr. Ahmed; definisi bulan baru berada pada tanggal 17 Agustus 2012 dan diprediksi pada tanggal 27 Juli 2012. Program computer yang dieksekusi dengan memberi input tanggal 27 Juli 2012 pada saat matahari terbenam, telah menghitung bulan baru untuk syawal. Penulis ingin menekankan bahwa bangunan sains yang masuk dalam kategori ‘ilm untuk menentukan awal syawal, perlu konfirmasi yaitu sebagaimana kriteria, pertama hasil musyawarah tahun 2005 yang melibatkan pihak LAPAN (tabel 1) dan kedua konsep ormas Muhammadiyah tersebut di atas.
Konfirmasi menurut ormas Nahdlatul ‘Ulama untuk penentuan awal syawal menurut hemat penulis, tradisi yang dilakukannya, telah menunjukkan penggunaan prosedur sains dan ‘ílm yaitu pekerjaan rukyat yang terkategori melakukan pembuktian. Rukyat akan diawali dengan hisab agar mengetahui, efektif dan efesien terhadap pekerjaannya. Sebaran yang diinstruksikan dalam organisasi untuk melakukan pekerjaan itu diwilayah yang berbeda merupakan pengumpulan data agar masing-masing markaz menunjukkan bukti atau tidak. Selanjutnya keseluruhan sampel markaz akan disimpulkan dan dipaparkan kepada umum hasil pembuktian yaitu antara hasil rukyat melawan kesimpulan hisab.

PREDIKSI UNTUK DIUJI
Keterangan tersebut menunjukkan bahwa bagi mereka yang memulai puasa tanggal 20 Juli, bulan Ramadlon pada hari 29 tidak memberikan umurnya 29 hari melainkan 30 hari. Hal ini dapat ditunjukkan pada informasi komputasi bagian ke dua di atas, bahwa saat tersebut bulan Ramadlon telah habis dan 1 syawal pada tanggal 19 Agustus 2012 walaupun bulan baru terdifinisi tanggal 17 Agustus 2012. Mereka yang memulai puasa tanggal 21 Juli dengan konsep rukyah pada akhir bulan sya’ban, dipastikan tidak akan memberikan umur Ramadlon 30 hari melainkan 29 hari dengan kondisi hilal seperti hasil komputasi ke dua di atas.
Dengan demikian hipotesis yang diberikan dalam tulisan ini adaah; menurut keputusan bersama ormas Islam yang dipimpin oleh pemerintah c.q. Dept Agama RI pada sidang isbat (penetapan) 1 Ramadlon yang lalu, Umat Islam di Indonesia akan berhari raya tanggal 19 Agustus.
Semoga seperti diprediksikan dan Wallahu a’lamu bis Showab.

—————————
1. T Djamaluddin. Imkan Rukyat: Parameter Penampakan Sabit Hilal dan Ragam Kriterianya (Menuju Penyatuan Kalender Islam di Indonesia). Ummurrisalah Majalah AULA No. 1 Tahun XXIX Januari 2007. Hal. 32.

2. Pengertian merupakan kondisi seseorang yang memiliki pengetahuan lebih banyak disbanding hanya sekedar atahu atau punya pengetahuan tentang subyek tertentu. Pengertian dapat dimaknai seseorang memiliki berbagai sudut pandang tentang subyeknya. Lihat AS. Hornby, Oxford Advance Learner’s Dictionary of Current English. Oxford University Press, 1974, hal. 957

3. Bagian kecil daerah planet bulan yang memantulkan sinar matahari ke bumi dan dapat terlihat pada kondisi tertentu dengan beragam variabel. Atau permukaan bulan yang tercahayai dan menghadap ke bumi. Lihat Drs. H. Abd. Salam Nawawi, M.Ag. Algoritma Hsab Ephemeris. Ummurrisalah Majalah AULA No. 1 Tahun XXIX Januari 2007. Hal. 24.

4. Ilmu berasal dari kata ‘Ilm dan dapat disamakan dengan ‘arofu. Lihat Prof. Dr. KH. M. Tholchah Hasan. Islam dalam Prespektif Sosial Budaya, Cetakan I, Galasa Nusantara, Jakarta, 1987, hal 38.

5. Komputer berasal dari kata compute yang berarti menghitung. Alat ini merupakan satu kesatuan dan bagian dari alat tersebut yang berfungsi menghitung dalam prosesornya adalah Adder.

REFERENSI

Djamaluddin. T. 2007. Imkan Rukyat: Parameter Penampakan Sabit Hilal dan Ragam Kriterianya (Menuju Penyatuan Kalender Islam di Indonesia). Ummurrisalah Majalah AULA No. 1 Tahun XXIX Januari. Hal. 32.

Nawawi, A.S. 2007. Algoritma Hisab Ephemeris. Ummurrisalah Majalah AULA No. 1 Tahun XXIX Januari. Hal. 24.

Syauqi, A. 2012. Legitimacy of Science in Islamic Thought: Identification of Methodic Form. Paper on the theme of Ethic, Legal, Social and Economical Implication in The 2nd International Conference of Life Sciences (ICLS) Brawijaya University. July, 14th – 16th. Malang.

One Response to Lebaran yang Menyenangkan

  1. metu.tv says:

    Howdy! I could have sworn I’ve been to this blog before but
    after checking through some of the post I realized it’s new to me.
    Nonetheless, I’m definitely delighted I found it and I’ll be book-marking and checking back often!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *