Buangan Plastik dan Tas Plastik Berbayar

Ahmad Syauqi

Kesadaran untuk lingkungan tidak terkotori oleh barang buangan telah mengemuka dengan insiatif/gagasan pemerintah menerapkan tas / kantong plastik dikenakan biaya atau berbayar. Berita tentang hal tersebut banyak diturunkan pada sepanjang tahun 2016 ini. Kompas 20 Pebruari menurunkan berita dan analisis dari survei kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tentang akumulasi kantong plastik digunakan sebanyak 10,95 juta kantong pertahun atau dapat menutupi suatu lahan 60 kali luas lapangan sepak bola. Hal itu didapatkan hanya dari 100 ritel modern dengan 100 konsumen perhari. Belum lagi yang ada di pasar tradisional menempati 90 % dan ritel modern tadi 30%. Kantong plastik yang dibuang telah sangat menyulitkan dalam pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.

Secara umum kesadaran tentang perlunya intervensi mengolah material buangan (sampah) ke alam masih belum banyak dimiliki. Hal itu bila dilihat dari sampah yang dihasilkan dapat menyebabkan polusi, pencemaran lingkungan udara, air dan tanah. Intervensi dilakukan dengan maksud untuk membantu mempercepat daur material dan hal itu telah banyak dipelajari. Material organik dari bahan buangan diselesaikan daur zat oleh alam dengan bantuan organisme yang disebut detritus dan mikroorganisme. Karakteristiknya adalah detritus melakukan aktivitas pengecilan ukuran dan selanjutnya mikroorganisme melakukan dekomposisi. Hasil dekomposisi digunakan kembali oleh tumbuhan dan manusia dapat manfaat dalam kehidupannya. Intervensi yang telah dikerjakan adalah pengelolaan sampah kota dengan berbagai upaya untuk mengkonsentrasikan bahan organik pada pembuatan kompos dan tumbuhan menerimanya dalam bentuk pupuk.

Plastik merupakan material yang berasal dari minyak bumi dan bentuk polimernya memerlukan intervensi untuk mengecilkan bahkan dekomposisi. Belajar dari organisme detritus dan mikroba pekerjaan intervensi mengelola dan mengolah buangan plastik memerlukan aktivitas panjang. Belum lagi faktor pembiayaan tentang teknologi untuk olahan plastik agar dapat kembali menemui siklusnya dalam hal ini karbon. Pada umumnya pembiayaan berbagai hal apakah penciptaan teknologi dan aktivitas kerja teknologi itu, berada dalam urusan profit yaitu pihak swasta. Pertanyaan yang timbul adalah siapa yang memberikan modal, membayar aktivitas pekerjaan dalam mengelola barang/material  buangan? Bagaimana bentuk intervensi material plastik agar lingkungan hidup masih dapat memberikan manfaat terbesar bagi generasi mendatang?

Berbagai kesulitan terjadi pada skala dunia, banyak para ahli memperhatikan hal ini sehingga urusan itu mendapatkan suatu ilmu pengetahuan baru yang disebut ilmu lingkungan (environmental sciences). Ilmu lingkungan melakukan pendekatan dari berbagai disiplin seperti ekonomi lingkungan, manajemen lingkungan (perlu perhatian dengan lingkungan ekonomi dan lingkungan manajemen), biologi lingkungan dan sebagainya. Demikian pula persoalan lingkungan dengan pelaku utamanya adalah manusia, terdapat pendekatan dari ilmu sosial untuk menyelesaikan masalah yang timbul.

Material kantong plastik yang dipandang sebagai barang buangan sebagaimana di atas tiap tahun dapat menutupi 60 kali lapangan sepak bola dan itu berasal dari 30% aktivitas ekonomi di masyarakat. Oleh karena itu gagasan dan pelaksanaan untuk berbayar masih bersifat uji coba. Segmen 30% tersebut secara asumsi terjadi di masyarakat terpelajar dan harapan untuk kesadaran mengeluarkan biaya kepada barang itu segera tercapai. Namun seperti pengalaman di Negara Eropa telah mengenakan pajak $ 20 sen untuk tiap kantong plastik yang dikeluarkan dan hal itu dimaksudkan untuk aktivitas recycle (Enger and Smith, 2008).

Menurut Tribunnew.com (2016); peritel modern siap mengalokasikan dana corporate social responsibility (CSR) untuk perbaikan dan pengelolaan lingkungan, dengan mekanisme yang akan diatur oleh masing-masing pengusaha ritel. Kata Roy N. Mandey Ketua Umum Aprindo dalam keterangan persnya yang diterima Warta Kota, Senin (22/2/2016): “Dana CSR sumbernya tetap dari budget perusahaan, dengan adanya pengurangan biaya operasional yakni pengadaan kantong plastik ini, tentunya budget perusahaan untuk CSR bisa ditingkatkan. Ini akan kita alokasikan untuk kegiatan CSR di bidang lingkungan,” tegasnya.

strukkantongberbayar

Argumen dikenakan pajak untuk kantong plastik yang digunakan dalam aktivitas belanja adalah pembiayaan untuk intervensi mengolah dengan berbagai teknologinya dan pengelolaan / manajemen sampah padat dimasyarakat domestik dan swasta (Syauqi, 2013). Pada konteks di Indonesia pengelolaan dengan menarik iuran sampah khususnya lokasi kota atau masyarakat urban masih belum dapat menutupi kebutuhan pekerjaannya. Pendekatan dengan aktivitas ekonomi yaitu seperti adanya bank sampah dan/atau penjualan kompos hasil pendekatan mengolah sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Pembiayaan sendiri energi terbaharukan untuk listrik lokasi TPA, bahan bakar pengangkut truk sampah; terus menerus diupayakan. Peran pemerintah dalam hal ini sangat penting dalam terwujudnya lingkungan yang berkelanjutan khususnya pengelolaan pembiayaan yaitu pajak.

Berita yang diturunkan oleh berbagai media belum memberikan argumen yang mengkhususkan alokasi pembiayaan oleh masyarakat yang telah dipungut berkenaan kantong plastik. Masyarakat urban khususnya yang berbelanja di ritel modern sangat perlu informasi berkenaan dengan uang mereka walaupun hanya ratusan rupiah dan dapat dibandingkan dengan $ 20 sen. Konsentrasi hasil memungut dengan kerjasama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sangat diharapkan bahwa kebijakan pemerintah untuk membayar kantong plastik dapat diterima secara utuh untuk maksud pekerjaan pengelolaan barang buangan (sampah) itu. Hal ini tanpa bermaksud untuk sangkaan negatif, istilah membayar kantong plastik disamakan dengan membeli kepada pengusaha. Oleh karena itu berita yang beredar dalam hal demikian mengundang persepsi dalam hal profit. Demikian pula sebaliknya untuk masyarakat kita istilah pajak juga dapat mengundang ketidak-tepatan persepsi yang timbul dalam usaha untuk problem lingkungan hidup.

Sosialisasi istilah pajak untuk membiayai teknologi pengelolaan dan pengolahan barang buangan perlu digencarkan. Masalah kantong plastik berbayar, dan sebenarnya dimaksudkan untuk usaha melakukan pendekatan masalah lingkungan, ditanggung bersama kita; masyarakat pemerintah, swasta dan domestik menempati porsinya (pembagian sosial menurut Analisis mengenai Dampak Lingkungan- AMDAL-). Teknologi yang dikerjakan sangat memerlukan pembiayaan dan tidak sedikit, agar siklus karbon dapat berlangsung. Kreativitas yang ditunjukkan oleh kalangan sekolah mulai dari tIngkat menengah hingga pendidikan tinggi, belum terwujud hingga adanya di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah domestik. Pengelolaan ditingkat sumber sampah belum merata tentang kesadaran untuk memilah jenisnya. Insenerator yang juga dibangun hasil paduan antara pajak dan iuran sampah masih memberikan masalah pencemaran udara. Perwujudan semua itu demi lingkungan berkelanjutan dapat dibangun dari pajak.

MARILAH MENINGKATKAN BERKESADARAN PENGELOLAAN BUANGAN KANTONG PLASTIK UNTUK LINGKUNGAN BERKELANJUTAN; mulai 21 Pebruari 2016.

Referensi:

  • Enger, ED and BF Smith. 2008. Environmental Science. A Study Interrelationship. Eleventh&International Edition. McGraw-Hill Company Inc. New York. p. 19-20, 62, 396-410.
  • Kompas. 2016. Sampah Plastik Kresek Berbayar Mulai Hari Minggu. Segmen Utama. Sabtu 20 Pebruari. Hal. 1 dan 15. Kolom 1.
  • ______. 2016. Kantong Berbayar Pembatasan Kresek Bisa di Hulu. Segmen Iptek, Lingkungan & Kesehatan. Hal. 14. Kolom 1.
  • ______. 2016. Sampah Plastik Soal Terdegradasi atau Terurai. Segmen Iptek, Lingkungan & Kesehatan. Hal. 14. Kolom 2 – 6.
  • Syauqi, A. 2013. Pengelolan Sampah Rumah Tangga Perkotaan Berdasar Proses Pemilahan Material Organik dan Persepsi Masyarakat di Kecamatan Klojen Kota Malang. Tesis. Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Lingkunga Program Pasca Sarjana Universitas Brawijaya. Malang.
  • Tribunnews.com. 2016. Kantong Plastik Berbayar Akan Dievaluasi Tiap Tiga Bulan. Akses 22 Pebruari. URL:http://u.msn.com/id-id/berita/nasional/kantong-plastik-berbayar-akan-dievaluasi-tiap-tiga-bulan/ar-BBpMVHh?li=AAfukE3&ocid=wispr

Suatu Pengabdian kepada masyarakat dari Dosen Kelompok Studi Biologi Lingkungan FMIPA UNISMA