POTENSI TERSEMBUNYI PERUBAHAN IKLIM

Ahmad Syauqi

Pendahuluan

Pola cuaca pada dasarnya merupakan kondisi dinamis dan faktor utamanya adalah suhu harian yang terjadi didaerah setempat. Pada umumnya stasiun siaran telivisi di bebagai belahan dunia memberikan ramalan cuaca dan hal itu dipaparkan dalam kondisi yang berbeda-beda di setiap kota suatu negara. Amat sangat penting bagi seseorang yang akan mendatangi suatu tempat, bepergian, dan dapat diketahui informasi tentang cuacanya. Kondisi cuaca suatu tempat sangat berpengaruh kepada aktivitas kita sehari-hari, sehingga pada isi informasi cuaca selalu dua hal yaitu adanya awan atau hujan dan suhu. Kita menyadari cuaca yang nyaman seperti suhu yang sejuk dan terang pada kemudahan bergerak selalu diinginkan tanpa terhalang oleh kondisi hujan lebat misalnya, angin ribut, dan banyak halilintar.

Pola cuaca jangka panjang adalah suatu iklim seperti kita di daerah tropis mempunyai pola jangka panjang iklim hujan dan kemarau. Demikian pula di daerah subtropis mempunyai pola empat macam musim. Perubahan pola waktu masa iklim itu saat ini banyak berubah dan merupakan suatu efek kemakmuran dan teknologi. Kemakmuran menunjuk gaya hidup dan sangat erat kaitannya dengan konsumsi hasil kemajuan teknologi. Keduanya merupakan jalan seiring pada besarnya dampak; semakin besar perubahan keduanya semakin besar pula dampak yang terjadi. Apakah hubungan antara cuaca dan pola hidup manusia untuk kemakmuran dan teknologi?

Perubahan suhu (Repro bmkg.go.id)

Unsur cuaca adalah suhu dan perubahannya oleh para pakar disebabkan unsur “kehangatan” di muka bumi. Suatu suhu yang hangat dapat dirasakan dalam sehari hari misalnya air hangat yaitu mempunyai suhu sekitar 40-50 derajat Celsius. Tetapi bagi permukaan bumi adanya salju di daerah Antartika banyak yang meleleh, perubahan suhu dapat terjadi dalam rentang 0 – 1 derajat Celsius, dapat dikatakan ada kehangatan. Rangkaian yang mempunyai hubungan sangat erat dengan kondisi hangat adalah banyak penambahan gas di muka bumi dan terperangkap dalam atmosfer yang diistilahkan dengan gas rumah kaca (GRK). Selanjutnya hubungan erat dengan hal itu adalah banyaknya gas karbon dioksida yang terlepas ke atmosfer oleh gaya hidup manusia dan teknologi.

Fenomena tentang “kehangatan” bumi menjadi nyata antara lain banyaknya perubahan cuaca seperti kondisi suhu meningkat secara merata, banyaknya badai oleh suatu tekanan udara akibat naiknya permukaan air laut sebab mencairnya es dari kedua kutub bumi. Fakta itu kemudian memaksa kita untuk dapat memperlambat lepasnya gas karbon dioksida yang terbesar oleh minyak fosil dan berusaha keras untuk energi baru terbaharukan (EBT). Secara sikologi perlu damai dengan diri kita sendiri agar “pemaksaan diri” ke arah EBT dapat terwujud; sebab perjalanan kita di Indonesia yang mencanangkan kontribusi EBT 23% untuk tahun 2025 (Kompas, 2016) saat ini telah tercapai 11,4 – 13 % (Susanto, 2019; Martiar, 2019). Hal tersebut bukan berarti selama 3 tahun telah tercapai nilai itu, tetapi sejak awal pemikiran tentang merespon perubahan iklim bumi telah dimulai sejak tahun 1970an. Ukuran yang digunakan adalah terjadinya penurunan jumlah emisi CO2 dari keseluruhan bauran (potensi) sumber energi.

Trending penggunaan listrik untuk kendaraan bermotor saat sekarang telah mendunia sebagai suatu respon terhadap perubahan iklim. Energi listrik menjadi tumpuan untuk memberikan daya kepada motor penggeraknya, tanpa emisi gas CO2. Seiring dengan respon ini teknologi baterai telah menjadi harapan baru untuk menyimpan bentuk energi listrik, tetapi pertanyaan besar adalah sumber energi sebelum penyimpanan kepada baterai berasal dari potensi-potensi apa saja.

Dorongan kuat untuk mencapai keinginan porsi EBT dalam penggunaan keseluruhan energi seperti perwujudan sumber listrik oleh energi angin telah dilakukan, misalnya dengan memasang turbin yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sulawesi Selatan sebesar 72 – 75 MW. Data bauran energi untuk pembangkit tenaga listrik tahun 2018 masih mempunyai porsi terbesar, 59,20% berasal dari batubara, gas bumi 22,30%, tenaga angin 12,32%, dan bahan bakar minyak 6,18% (Martiar, 2019); dengan catatan bahwa terjadi kenaikan dalam penggunaan batubara dibanding tahun 2017. Tiga dari empat macam bauran energi merupakan penghasil gas CO2.

Turbin dengan kincir angin (Repro Okezone.com)

Konsep Keseimbangan

Uraian di atas menunjukkan bahwa saat sekarang dominasi berasal dari bahan-bahan sumber yang masih memberikan emisi CO2. Sedangkan sumber yang bersih dan dapat memberikan daya adalah dari angin untuk turbin dengan baling-baling dan penangkapan sinar matahari oleh sel buatan pada panel surya. Parameter gas CO2 sebagai emisi untuk banyak variabel bauran energi untuk pembangkit tenaga listrik dan capaian EBT 2025 nampak membingungkan. Bagaimana teknis pengurangan parameter itu bila 3 dari empat macam bauran sumber pembangkit listrik jelas memberikan emisi CO2. Penurunan emisi itu dengan memangkas dan meniadakan 3 macam bauran, membuat listrik jadi tidak tersedia.

Emisi GRK bertambah dengan seiring gaya hidup dan teknologi seperti saat sekarang dan berpotensi menjadi konflik untuk penyediaan listrik menjadi sangat berkurang, disebabkan penurunan besar-besaran GRK. Konsep penurunan gas COtidak dapat digunakan untuk kondisi teknologi yang belum siap dioperasionalkan, misalnya jenis potensi dari air, angin dan sinar matahari-sel-fisik-buatan (panel energi surya). Penurunan emisi karbon dioksida untuk pembangkit listrik dari sumber 3 baurannya dapat memperoleh penurunan GRK bila terdapat penyeimbang “penyerap gas karbon dioksida” yaitu sel biologis; tetumbuhan dan mikroorganisme. Bagi negara maju yang telah siap ketiga potensi sumber listrik, walaupun efisiensi untuk panel surya 33% (Landmark Devidend, 2019), dan energi motor kendaraan dari baterai, secara otomatis terjadi penurunan GRK.

Emisi Karbon dioksida dan usaha pengurangannya (Repro bbc.com)

Pilihan pada pembangkit listrik yang jadi padam dengan memangkas penghasil GRK untuk memenuhi penurunan sebagaimana komitmen yang telah dibuat, dapat diduga, masih terjadi pembelaan pada gaya hidup dan teknologi yang tersedia untuk kehidupan masyarakatnya. Oleh karena itu dilema EBT dan tuntutan global, di Indonesia dapat didekati melakukan penghijauan secara masif agar penurunan kadar karbon dioksida menjadi turun dan bahkan dimungkinkan habis (secara teori) oleh “alat klorofil”. Pertumbuhan hijauan membutuhkan unsur nitrogen untuk biomassanya dan terdapat peluang adanya pupuk zat urea (Carbonyl di amide)500.000 ton/tahun yang dihasilkan dari gasifikasi batubara disamping itu untuk gas elpiji dan bahan baku plastik (Prasetyo, 2019).

Penangkap karbon dioksida (Repro ilmugeografi.com)

Hitungan serapan gas karbon dioksida untuk pohon yang mature  dapat menyerap sebanyak 0,0218 metric ton/tahun  menurut masyarakat kehutanan Amerika dan bila tiap gallon (3,785 liter) bensin mengeluarkan 0,0089 metrik ton dalam sehari sebagaimana hitungan oleh US EPA tahun 2014 dan US EIA tahun 2009, maka dibutuhkan pohon itu sebanyak 147 pohon perhari. Bila dalam satu hari diketahui kebutuhan berapa liter bensin sehari di Indonesia maka dapat dikalkulasi berapa pohon yang perlu ditanam.

Adanya gerakan demikian dibarengi dengan inovasi dan peningkatan bauran potensi energi yaitu pengadaan teknologi pembangkit energi dari air, angin dan panel surya.  

Gerakan aksi yang seiring dengan hal ini adalah pencegahan pembakaran disengaja pada pembukaan lahan. Hal demikian menjadi jelas akan memberikan sumbangan untuk penurunan GRK. Pertanian super intensif walaupun dalam kurun waktu tertentu terjadi penurunan penyerapan karbon dioksida , bila dilakukan dengan pembukaan lahan yang baik, nilai keseimbangannya terjadi pada sokongan pangan kepada masyarakatnya, dengan upaya teknologi konservasi pengendalian dampak lahan. Artinya aktivitas pada pertanian super intensif dapat dikendalikan dan masih terjadi penyerapan gas oleh “alat klorofil”nya.

Konsep keseimbangan daur zat untuk penurunan GRK sesuai komitmen, selain pertanian super intensif untuk pangan, dapat pula diarahkan untuk EBT dari minyak tumbuhan untuk solar dan biomassa untuk etanol. Oleh karena itu parameter penurunan GRK menjadi relevan pada penyerapan oleh alat jenis tetumbuhan; “klorofil”. Menjadi tidak relevan bila penggunaan parameter tersebut dipaksakan peniadaan potensial listrik dari bahan alam penghasil GRK sementara energi bersih tidak tersedia potensi dari air, angin dan sinar matahari-sel-fisik-buatan (panel energi surya).

Pertanian superintensif (Repro Industri kontan.co.id)

Konsep minyak tumbuhan untuk solar dan biomassa untuk etanol bagi kebutuhan bahan bakar merupakan konsep EBT. Pengendalian pada GRK akibat penggunaan jenis EBT ini juga pada konsep penangkapan oleh “alat klorofil”. Artinya inovasi untuk EBT jenis ini sangat perlu penekanan pada daur zat gas karbon dioksida dan perputaran zat itu menjadi dasar sebagai tipe terbaharukan. Persoalan yang mengemuka saat sekarang adalah berkaitan dengan bahan buangan berbentuk biomassa dan terjadi proses-proses biologis seperti fermentasi yang dapat mencemari lingkungan. Potensi biomassa yang dapat mencemari lingkungan adalah hasil pertanian yang mudah mengalami kerusakan oleh sebab fisik maupun pembusukan. Proses fermentasi etanol merupakan pengendalian alami pada bahan-bahan tersebut antara lain sebagai penyumbang GRK tetapi manfaat untuk bahan bakar, pada lingkup lokal; perorangan dan keluarga seperti kompor (stove), penghangat ruangan atau lembaga seperti pada pengelolaan bahan bakar motor pengangkut (kendaraan) sampah.

Alat pemanas berbahan bakar bio-etanol (Repro start up – bisnis online)

Bahan etanol dan solar untuk EBT dapat dihasilkan dari pemanfaatan biomassa jenis alga untuk menjawab adanya persaingan kebutuhan pokok untuk pangan. Hal demikian solar dapat dibuat dari minyak tumbuhan untuk pangan dan etanol dibuat dari karbohidrat jenis pangan. Keduanya dapat menimbulkan kompetisi untuk kebutuhan pangan dan bahan bakar kendaraan. Biomassa dari alga yang di budidayakan dapat meminimalisir kompetisi tersebut.

Inovasi reservoir air, kincir angin dan panel surya

Potensi alam pada kondisi iklim yang berubah ekstrim masih dapat dimanfaatkan misalnya untuk musim hujan kepada inovasi bendungan. Ilmu dan teknologi masih memberi harapan dapat menggali inovasi pembuatan reservoir untuk penggunaan musim kemarau panjang. Daur zat air dan menjadi tumpah dengan cuaca ekstrim saat sekarang, dengan memberikan inovasi daerah hulu menjadi reservoir-tanpa-bantuan-vegetasi. Artinya kondisi alami reservoir air dan tersedia sepanjang musim oleh karena adanya vegetasi yang berbentuk hutan, telah dinikmati berupa sumber air. Kondisi lenyapnya hutan menjadi kubangan di daerah Kalimantan, masih memungkinkan untuk pemberian inovasi menjadi reservoir untuk penyediaan air sepnjang musim. Juga bila memungkinkan adanya potensial aliran air menjadi energi listrik dengan pemanfaatan beda ketinggian. Bagaimana melakukan penyediaan reservoir air musim hujan tanpa banjir. Contoh pembuatan reservoir air secara teknologi dapat mempelajari pembuatan terusan Sues di Mesir dan terusan Panama.

Membut kanal (Repro palingseru.com)
Reservoir daerah tropis (Repro cinta hidup.com)

Teknologi kincir angin dan panel surya telah dilakukan besar-besaran saat sekarang dan masih terbuka luas inovasi untuk di Indonesia. Ketersediaan energi listrik untuk masa depan telah memberikan keniscayaan baru bagi kelangsungan kehidupan masyarakatnya. Panel surya dapat dimanfaatkan secara industri pembangkit listrik atau kebutuhan individual misalnya untuk kebutuhan suatu rumah tempat tinggal secara mandiri.

Usaha warga untuk keluarga
(Repro banten.antaranews.com)

Referensi

Carbon footprint calculator. Akses tanggal 15 Desember 2019. URL:http://www.conservation.org/carbon-footprint-calculator#/

Kompas, 2016. Dukungan Nonbank dibutuhkan Proyek Energi Terbaharukan Berprospek Baik. Segmen Ekonomi. Kamis 4 Pebruari. Hal. 19. Kolom 2.

Landmark Devidend. 2019. The Future of Solar Energy – A look at future solar technology. News & Insight Market Minute Blog. URL:http://www.landmarkdevidend.com

Martiar, NAD. 2019. Terus Pacu Kontribusi Energi Terbaharukan. Opini Ekonomi. Kompas, Kamis 10 Oktober.

Prasetyo, A. 2019. Pertamina Lanjutkan Hilirisasi Batubara. Kompas. Ekonomi. Senen 16 Desember.

Susanto, I. 2019. Tanpa Terobosan Energi Terbaharukan, Target NDC Sulit Dicapai. Humaniora. Kompas, Kamis 22 Agustus.

Suatu Pengabdian kepada Masyarakat