Lesson of Organic waste

Material sampah organik dihasilkan setiap hari dan sebagian besar di kembalikan ke lingkungan sekitar kita. Bila material itu sebagai hasil produksi dapat dikategorikan sebagai hasil samping. Seyogyanya suatu hasil samping dan akan dikembalikan ke alam, perlu menjadi perhatian kita khususnya hal-ihwal pengelolaan material itu. Para pakar pengelolaan lingkungan memberikan penjelasan bahwa terdapat saling hubungan erat antara manusia sebagai sumber timbulan dan apa yang ditimbulkan itu. Keduanya bukan lagi sebagai aspek peninjauan tetapi telah menjadi faktornya.
Ada hal yang menarik dalam pemikiran, setelah penulis mendapatkan fakta bahwa hubungan sebab akibat keduanya dalam pengelolaan. Tujuannya adalah menyerahkan kembali bahan organik kepada alam agar alam melakukan proses dekomposisi. Mesin alam mikroorganisme adalah sejawat. Tetapi adanya konsentrasi kegiatan seperti di perkotaan, membuat mikroorganisme perlu dibantu. Dalam dunia analisis disebut sebagai persiapan-persiapan atau preparasi.Hubungan kita menjadi sangat dekat dengan bahan buangan organik dan berkenaan material itu banyak dilingkupi berbagai sebab tindakan kita.

Hubungan menarik itu adalah berkenaan dengan kita akan membuat peraturan mengenai sampah organik pada tataran teknis. Musyawarah mengenai sampah organik di RT atau RW, suatu ujung daerah implementasi peraturan yang lebih tinggi, dari peraturan daerah hingga UU, seyogyanya menyadari bahwa ada sebab berasal dari material itu. Fakta yang muncul dari keinginan masyarakat untuk mengelola sampah organik mempunyai sebab kondisi sampah itu yang berkaitan dengan bagaimana proses dekomposisi, agar hukum alam siklus dapat berjalan. Hukum alam berkenaan dengan konservasi.

Dimanakah sebab itu berada? Mikroorganisme, sejawat kita dalam peran di lingkungan melakukan dekomposisi bahan organik, kemauan selnya tergantung dari berapa angka perbandingan unsur karbon dan nitrogen. Angka perbandingan mempunyai koneksi dengan persepsi pengelolaan tentang peraturan pengomposan yang akan dibuat, mempunyai hubungan signifikan dan kausal. Oleh karena itu sampah organik dengan karakteristik kandungan karbon dan nitrogen antara lain menjadi sebab kita membuat suatu “isi” peraturan untuk kita. Peraturan itu dalam suatu proses terjadinya hukum alam terletak pada daerah preparasi agar “mesin” sel mikroorganisme mempunyai daya untuk membantu mengahasilkan pupuk dan humus. Kata pakar tanah, jangan sampai membuang bahan organik dalam logikanya memperkaya nutrisi dan memperbaiki fisik tanah, yang terjadi robbing nitrogen. Mikroorganisme justru mengambil nitrogen di tanah yang akan ditanami, karena karbon terlalu banyak di sampah organik itu.

Kadang ditemui pemberian kompos tidak dapat membantu menyediakan nutrisi tanah tetapi malah terus terjadi proses dekomposisi material organik. Karenanya nitrogen malah tersedot ke dalam sel mikroorganisme. Realitasnya tanaman tetap saja “kurus”. Hal ihwal komposting di negara maju dan pemikirannya dapat dilihat disini.
Di universitas Brawijaya pemikiran ini telah diseminarkan dengan judul Management
of Household Solid Waste Materials and Social Preception in Environmental Prone Region of Klojen District of Malang City
. Masih akan ada lagi seminar trans-disiplin baik level magister maupun doktor. Lihat.
Menurut penulis nampaknya hal seperti di atas penting bagi officer bidang lingkungan,baik di pemerintahan maupun swasta untuk menambah wawasan pengelolaan lingkungan masing-masing.

Fakta tersebut memberikan implikasi yang luas dalam implementasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *