Energi Terbaharukan dari Biomassa*)

Ahmad Syauqi

Kebijakan penggunaan energi baru terbaharukan (EBT) dinyatakan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 Tahun 2014 dan dari semua aspek pada tahun 2025 diharapkan dapat menyumbang 23% dan tahun 2050 sebesar 31% (Kompas, 2016a). EBT prioritas meliputi panas bumi, air, angin, surya, bioenergi (Kompas, 2016b) atau biomassa dan biofuel; semuanya diproduksi oleh alam dan biomassa dapat langsung digunakan seperti untuk menghasilkan panas (dibakar). Tetapi biomassa dapat pula digunakan untuk memproduksi jenis lainnya seperti bioetanol, biodiesel atau biogas. Bioetanol dapat diproduksi dari jagung, tebu atau jenis rumput yang dibudidayakan yang pada dasarnya banyak mengandung karbohidrat. EBT diprogramkan dapat menggantikan energi tidak dapat diperbaharui seperti bahan bakar fosil.

Pada tahun 2014 produksi minyak fosil 290 juta barrel sementara konsumsi BBM telah mencapai 449 juta barrel, minyak mentah yang diimpor sebanyak 121 juta barrel dan BBM 179 juta barrel (Panigoro, 2016). Cadangan energi fosil di Indonesia bakal habis 13 tahun lagi dengan asumsi 228 juta barrel pertahun, sedangkan gas bumi 34 tahun (Agustinus, 2016). Bahan bakar jenis bensin untuk motor 4 tak yang saat ini digunakan dengan pertimbangan emisi karbon, terdapat porsi campuran senyawa etanol. Porsi terbanyak 15% pada BBM jenis bensin untuk motor tersebut dapat menghemat jutaan barrel minyak fosil.

Senyawa Etanol dapat dihasilkan secara kimia dan oleh sel mikroorganisme. Saat sekarang sedang gencarnya digalakkan lagi untuk energi terbaharukan dan yang berpeluang pengurangan energi fosil adalah gasohol. Material itu merupakan campuran antara bensin 85% dan etanol 15%. Etanol yang dimaksud adalah senyawa kimia jenis etil alkohol yang dihasilkan oleh sel jamur berbentuk satu sel atau bukan bentuk jamur benang yaitu spesies Saccharomyces cerevisiae. Bahan bakar mesin gasohol dapat dipakai tanpa memodifikasi motor (mesin) yang digunakan saat ini khususnya untuk jenis kendaraan roda empat. Hal demikian menjadi penting dalam rangka polusi hidrokarbon yaitu masalah perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil yang didapatkan dari perut bumi.

Sel jamur itu diproduksi oleh banyak perusahaan yang menghasilkan sel murni dalam bentu butiran granul pelet. Pemanfaatan hasil produksi itu umumnya oleh masyarakat digunakan untuk membuat roti yang secara spesifik pada gas CO2nya. Secara reaksi kimia bila keunggulan suatu produk sel dengan pemanfaatan spesifik menghasilkan gas dalam kuantitas tinggi sebanding pula dengan produk senyawa etanol berdasar dekomposisi oleh sel yaitu reaksi.

Karbohidrat yang digunakan disarankan untuk tidak bersaing dengan sumber makanan manusia maupun ternak. Banyak usaha yang telah dilakukan agar memanfaatkan sumber-sumber yang berasal dari makhluk hidup baik tetumbuhan maupun hewan dengan pemanfaatan teknologi pemecahan polimer karbohidrat menjadi molekul 6 karbon yaitu monosakarida. Hal ini khususnya dimaksudkan pemanfaatan bioethanol dari proses dekomposisi oleh sel S cerevisiae. Polimer karbohidrat tersebut antara lain memanfaatkan limbah produksi keju dan gula pasir yaitu berupa tetes.

Bahan baku didapat dari biomassa dari tumbuhan masih memerlukan pemecahan atau disebut sakarifikasi. Bahan baku berupa sellulosa atau karbohidrat dengan banyak kandungan senyawa lainnya seperti lignin diperlukan tersedia glukosa (monosakarida).

Di masyarakat Kabupaten Boalemo Gorontalo, bahan baku berupa nira tumbuhan aren (Arenga pinnata) telah digunakan untuk fermentasi etanol. Kompas (2016b) menurunkan laporan bahwa bioetanol digunakan untuk memasak sebagai pengganti gas atau minyak bumi; tiap 1 liter dapat memberikan panas api hingga 6 jam dengan asumsi 1 tetes/detik. Bahan baku nira aren berasal dari tanaman 15.000 pohon aren dalam areal Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) seluas 96.926 Ha. Pemanfaatan nira pohon aren atau air tebu tidak diperlukan skarifikasi, dibanding sumber-sumber monosakrida dalam bentuk polimer seperti pati singkong dan sejenisnya, pati jagung, dan sagu.

Menurut Vitousek, penggunaan hasil produksi primer (fotosintesis) dalam ekonomi secara langsung maupun tidak langsung adalah 40% pada tumbuhan darat (Hadi, 2012). Oleh karena itu penggunaan bioenergi dari biomassa sangat perlu dikembangkan dan berdasarkan pendapat tersebut produk fotosintesis berupa karbohidrat masih sedikit pemanfaatannya. Penggunaan energi fosil dapat diganti dengan energi biomassa yang sangat melimpah dan dapat diartikan persediaan bahan baku EBT 60% tersedia dari fotosintesis belum digunakan.

Tetapi masih ada persaingan pada penggunaan produk primer untuk kepentingan energi terbaharukan dengan pangan/pakan. Hal demikian bila informasi dari penelitian bahwa bahan baku EBT 60% tersedia dari fotosintesis (produk primer) tidak perlu terjadi. Bahan baku EBT dari biomassa produk primer dapat seiring untuk pemanfaatannya. Kompas (2016c) menurunkan laporan bahwa  penurunan populasi sapi di Jawa Barat dan produksi susu sapi mengalami kesulitan memenuhi pakannya. Selanjutnya Menteri Pertanian di Jawa Tengah menyatakan perlu integrasi antara sistem peternakan melalui pemanfaatan hutan. Konsep pemeliharaan ternak dalam hutan diharapkan dapat meningkatkan populasi, yaitu tercukupi 50 kg rumput per ekor sapi. Hal lain adalah minimnya pakan hijauan juga menyebabkan angka bunting sapi rendah. Secara proses, ketersediaan pakan hijauan masih membutuhkan jerami dan adanya proses fermentasi yang melibatkan mikroorganisme dalam memenuhi kebutuhan pakan itu.

Dapat diajukan suatu bahan baku karbodirat yang melimpah adalah bahan buangan organik padat atau yang dikenal municipal solid Waste (MSW) sebagai sumber glukosa untuk etanol. Dalam hal ini untuk diversifikasi penyerapannya disamping untuk kompos.

Referensi

Agustinus, M. 2016. Wawancara Khusus Dirjen EBTKE. Minyak Murah, bagaimana Nasib Energi Terbaharukan RI?. Akses Tanggal 16 Pebruari 2016. URL:http://m.detik.com/finance/read/2016/02/16/071030/3142796/ 459/minyak-murah-bagaimana-nasib-energi-terbaharukan-ri.

Hadi, S.P. 2012. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan. Cetakan ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hal. 13.

Kompas, 2016a. Dukungan Nonbank dibutuhkan Proyek Energi Terbaharukan Berprospek Baik. Segmen Ekonomi. Kamis 4 Pebruari. Hal. 19. Kolom 2.

_______. 2016b. Pembangunan Rakus Energi Fosil. Pemanfaatan Energi Baru Terbaharukan Masih Kecil. Berita Utama. Selasa 26 Januari. Hal. 1. Kolom 2 – 4.

_______. 2016c. Peternak Semakin Kesulitan Cari Pakan. Menteri Pertanian Ingin Intergrasikan Sapid an Hutan. Segmen Nusantara. Rabo 2 Maret. Hal 22. Kolom 4 – 7.

Panigoro, A. 2016. “Quo Vadis” Energi Bersih Indonesia. Segmen Opini Harian Kompas 11 Pebruari. Hal. 7 kolom 1-4.

Syauqi, A. 2015a. Mikrobiologi Lingkungan Peranan Mikroorganisme dalam Kehidupan. Teori dan Praktek. Edisi V. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Islam Malang (Unisma). Malang. Hal. 148

Suatu Pengabdian kepada Masyarakat

*) Merupakan bagian Tinjauan Pustaka Laporan Penelitian Reproducible Material Sel pada Tingkat Kekeruhan Bentuk Dispersi dan Hubungan dengan Kuantitas Saccharomyces cerevisiae pada Semester Genap Tahun 2015/2016