Realitas Legitimasi dalam Relung Suatu Bangsa

Makna belajar sambil berbuat dengan sifat sains

Menyimak tayangan diskusi yang dipublikasikan oleh media massa seperti Metro TV, Kompas TV dan TV One pada siaran siang hingga petang tanggal 6 Agustus 2014 sangat menarik. Diskusi antara pihak pemohon dan termohon dalam kasus pilpres di mahkamah konstitusi, telah menampakkan keterlibatan para pakar untuk suatu tujuan yaitu mengerti suatu realitas. Sesuatu yang dimengerti dapat didekati jalan tertentu dan hal itu diistilahkan dengan metode. Keseharian demokrasi pada momen pilpres memunculkan hasrat untuk mengerti bagaimana para aktor mempunyai peran dalam eksistensi bangsa Indonesia. Kasus yang hampir serupa adalah perbedaan hasil hitung cepat. Kedua kasus dan kasus apapun dapat diasumsikan dapat didekati dengan metode ilmiah. Saat sekarang metode itu digunakan oleh sains.
Konstelasi bentuk sains memiliki unsur-unsur dan proses problem solving memberikan output antra lain keputusan yang legitimate. Unsur yang dapat memfasilitasi suatu masalah untuk diselesaikan adalah uji dengan menggunakan metodenya dan mendekati jawaban yang benar. Jawaban yang benar tidak pernah diketahui dan oleh karenanya diistilahkan “mendekati kebenaran” dengan melanjutkan hasil metode menuju suatu penafsiran. Dalam dunia perguruan tinggi bentuk tersebut diistilahkan dengan skripsi dan metode ilmiah mensyaratkan kehadiran atau bahkan wajib dihadirkan unsur fakta baru.
Suatu fakta baru dihadirkan secara obyektif oleh mahasiswa penguji, dihadapan “hakim” penguji hasil pemikiran mahasiswa, satu dosen atau dewan dosen. Penguji dosen selalu menanyakan apakah evidence yang telah diberikan dapat mengarahkan menuju penolakan atau penerimaan legitimasi yang diturunkan dari teorinya. Penolakan dapat memberikan arti perlu dibuat legitimasi baru dan penerimaannya menunjukkan bahwa legitimasi awal telah tahan uji. Makna legitimasi yang dibentuk akibat pengujian dengan menghadirkan fakta baru, masih mempertimbangkan tujuan dan kegunaan hasil pemikiran penguji mahasiswa.
Pernyataan kelulusan seorang mahasiswa merupakan hal yang legitimate seorang sarjana dari suatu perguruan tinggi. Apakah legitimasi keputusan hasil pilpres 2014 yang dibuat komisi pemilihan umum (KPU) dapat diuji dan dimana kegunaannya?
Keberadaan masalah hingga proses problem solving merupakan sebab pengetahuan yang dimiliki oleh pengusung calon presiden, suatu pilar yang dinamakan koalisi partai politik. Hal ini dianalogkan dengan mahasiswa penguji. Salah satu elemen membentuk pengetahuan adalah pengalaman tentang obyek yang sama dan dapat dibandingkan sehingga suatu rasional dapat bekerja. Pada kontek dan relevansinya dengan eksistensi bangsa dan Negara seyogyanya pengetahuan yang dimiliki berjalan saat ini pada kepemilikan dengan melekatnya sifat-sifat ilmiah. Karakteristik pengetahuan itu antara lain digunakan suatu metode tertentu sebagaimana diajarkan di perguruan tinggi atau setingkat dengan tatacara untuk mengerti suatu obyek.
Mengerti suatu obyek tertentu dapat berjenjang dari satu macam aspek hingga multi aspek seperti; cakupan satu disiplin ilmu, multi disiplin atau interdisiplin; cakupan dampak positif, dampak negatif. Demikian pula proses mengerti yang didalamnya melewati beberapa demarkasi pengetahuan, suatu aspek filosofis. Salah satu jalan untuk “mengerti” menggunakan metode ilmiah dan berbasis logika. Basis itu memberikan detil untuk pengetahuan yang dihasilkan atau yang disebut “mengerti”. Hasil pemikiran yang logis pada kasus-kasus demokrasi yang kita hadapi dapat melampaui hasil pemikiran itu sendiri menyatu dengan tujuan dan kemanfaatannya dapat diistilahkan dengan hikmah.
Nampaknya telah hadir apa yang disebut “dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan” pada dunia demokrasi-praksis. Lagi-lagi itu memang suatu karakteristik yang didapati dan usaha dibangun oleh masyarakat kita sebagi bangsa dalam relung bangsa-bangsa lain di bumi ini. Kita dapat bergerak lebih abstrak sebagaimana suatu prinsip. Prinsip keterbatasan pikiran manusia dalam lingkup universalitas yang diciptakan Allah SWT. Bahwa suatu hikmah diperoleh secara dinamis disandarkan pada rasa takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Suatu relung mempunyai batasan wilayah abstrak dan bersifat khas pada setiap bangsa tertentu.
Konteks suatu legitimasi pada dunia praksis tidak dapat meninggalkan karakteristik tersebut. Tidak ada kegunaan yang diperoleh bila relung suatu bangsa kemudian tidak lagi mempunyai bentuk kongkretnya baik abstrak ataupun wilayah dalam peta bumi. Bila ini terjadi, kita telah tidak mempunyai rasa takut kepada Tuhan untuk kemanusiaan di bumi.

One Response to Realitas Legitimasi dalam Relung Suatu Bangsa

  1. Pingback: Free Piano

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *