Pengelolaan efek Area lingkungan Pengungsi akibat bencana; Portable and Moving Toilet

Ahmad Syauqi

Pendahuluan

Suatu bencana yang menimpa kita pada akhir-akhir ini dapat dikatakan secara bertubi-tubi. Pada pemahaman ilmu lingkungan pada tahapan akhir yang menimpa kita tidak disebut sebagai dampak, sebab suatu bencana datangnya dari alam yang bukan sebagai rentetan perubahan objek lingkungan oleh manusia, melainkan datang dari Tuhan. Walaupun dalam bahasa agama / ajaran Islam disebut sebagai hasil perilaku manusia terhadap Tuhannya; Allah SWT, termasuk sebagai dampak perilaku manusia. Pada kapasitas tulisan ini pembicaraan ingin disampaikan untuk lingkup ilmu lingkungan. Akibat bencana yang umumnya mengalami penderitaan, selanjutnya perlu penerapan pengetahuan manajemen lingkungan dengan tujuan mengurangi bahkan meniadakan penderitaan lebih parah.

https://en.tempo.co/read/922253/5-facts-about-mount-anak-krakatau

Perubahan lingkungan fisik akibat suatu bencana tidak diberikan istilah dampak, tetapi suatu tahap perubahan yang mempunyai efek langsung maupun tidak langsung kepada manusia. Dampak mempunyai suatu makna, bahwa sebelum terjadinya dampak ada efek lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Efek lingkungan dapat diberikan contoh; peningkatan konsentrasi bahan pencemar, penurunan kadar oksigen dalam air, perubahan oleh perpindahan keluarga dengan adanya aktivitas pembangunan fisik. Perubahan sosial, ekonomi – budaya ,dan sebagainya dan menggunakan ukuran tertentu; kualitatif dan/atau kuantitatif. Perubahan lingkungan oleh bencana telah jelas dihadapan kita bahwa terjadi perubahan yang menyangkut lingkungan fisik tempat tinggal, sosial untuk sementara dan ekonomi. Oleh karena itu lebih mendekati maknanya pada istilah efek lingkungan.

Rasa kemanusiaan kita kemudian mengedepankan adanya bantuan baik individu, sosial-ekonomi kemasyarakatan, secara formal oleh pemerintah, maupun gabungan mereka. Penempatan pada rentang waktu tertentu dalam penanganan bencana dalam urusan kehidupan masyarakat telah dibentuk organisasi bahkan suatu anggaran tertentu oleh pihak pemerintah. Secara ekonomi urusan lingkungan dan manusia termasuk di dalam lingkungan hidup telah dikembangkan pada istilah valuasi dan eksternalitas. Tetapi pada lingkup urusan teknis, hal ini disadari bahwa biaya-biaya kepada pemulihan lingkungan hidup dapat didekatkan kepada pengembalian potensi-potensi yang dapat mendorong bangkitnya aktivitas ekonomi baik oleh manusianya yang pulih dan lingkungan mempunyai valuasi ekonomi yang tinggi di masa selanjutnya.

Secara sempit untuk urusan lokal ditempat-tempat kejadian agar dapat  mengembalikan efek lingkungan dan pada rentang waktu sangat pendek pada konsentrasi manusia adalah kelangsungan hidup di pengungsian. Beban kemanusian pada tempat pengungsian dapat dianalogikan pada beban manajemen perkotaan; sejak dari urban hingga sub-sub urban, untuk urusan kelangsungan lingkungan hidup dan sosial-ekonomi. Tetapi khusus ekonomi pada beban tempat pengungsian telah ditanggung bersama sebagai suatu eksternalitas. Kehidupan sosial dan interaksinya dengan fisik lingkungan pada rentang waktu hingga pemulihan belum banyak mendapat perhatian. Secara analogi seperti adanya toilet bergerak dan perlakuan limbah secara sistematis dilakukan oleh manajemen perkotaan. Oleh karena itu seperti uraian sebelumnya beban-beban yang ada sangat diperlukan banyak pendekatan. Tujuan tulisan ini adalah mengetahui pendekatan pengurangan beban sosial dan fisik lingkungan bagi urusan bencana.

Anggapan

Suatu anggapan sangat penting posisinya dalam melakukan pendekatan kepada objek yang dibahas. Lingkungan hidup-fisik, sebagaimana istilah yang melekat padanya, hidup memang telah ada pada lingkungan itu. Suatu lingkungan adalah dinamis, tidak mati, ada perubahan-perubahan yang terjadi di dalamnya. Perubahan yang ada terjadi pada benda yang mati (abiotik) dan hidup (biotik) atau “golongan pada media hidup” dan “yang hidup di atas media”. Lingkungan yang ada di sekitar manusia merupakan media hidup dan didalamnya ada daur atau siklus zat beraneka ragam macam dan kondisinya. Pada istilah ilmu hayat, terdapat zat anorganik dan organik yang keduanya saling berganti wujudnya dalam  suatu sistem-sistem kompleks; biosfer.

Beban sangat berat adalah penjagaan lingkungan pada kondisi yang sehat untuk kelangsungan hidup manusia di pengungsian. Kondisi sehat dapat diartikan semua sistem-sistem daur zat dapat didekatkan kepada cara kerja siklus zat itu. Dengan demikian anggapan yang diberikan tentang urusan fasilitas fisik kelangsunan hidup manusia-pengungsian-bencana adalah bantuan kepada siklus zat. Contoh sederhana melakukan pendekatan ini adalah pembuangan sampah organik (basah) pada suatu lubang tanah dan ditutup kembali dengan tanah; yang menyerahkan proses-proses daur kepada alam (alami). Pengomposan alami dan tiruan secara tradisi dan modern sistemnya, termasuk sistem pembuangan landfill yang modern.

Suatu fasilitas yang didekatkan kepada daur siklus zat dapat dibentuk portable or moving toilet di kota-kota besar. Beban lingkungan yang terkandung ekternalitas telah diatasi/ditanggung oleh pajak yang dikoordinir oleh pemerintah. Fasilitas pembuangan sampah telah dibantu oleh pajak dan “urunan” yang masih diperlukan dengan suatu kesadaran tinggi oleh masyarakat membentuk pola-pola tempat pembuangan sampah sementara (TPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA). Pengadaan fasilitas-fasilitas eksternalitas merupakan beban berat kehidupan kita.

Pengurangan hingga Peniadaan  Efek Lingkungan

Beban sosial suatu bencana dapat didekati dengan perilaku manusia dan kita sangat beruntung memiliki rasa sosial yang tinggi, dengan adanya bantuan berupa kebutuhan hidup sehari-hari pengungsi. Bantuan itu baik secara moral dan material telah berlangsung dengan sangat baik walupun masih terdapat kekurangan. Bencana tsunami oleh adanya perubahan bentuk anak gunung Krakatau pada kondisi akhir-akhir ini dilaporkan sangat kekurangan fasilitas toilet. Pada tanggal 31 Desember 2018 oleh Kompas TV dilaporkan hanya 3 toilet untuk pengungsi sekitar 1000 orang.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20181228164442-20-357095/pengungsi-tsunami-di-pandeglang-alami-sesak-napas-dan-diare

Hal ini dapat diduga bahwa ada buang air besar (BAB) di sembarang tempat. Pada titik perhatian ini dapat pula diduga bahwa fasilitas urusan BAB membutuhkan fasilitas dengan pembiayan tidak sedikit, terlebih lagi bila fasilitas tersebut dibentuk dalam suatu sistem-sistem seperti anggapan di atas. Kabar dari berita TV luar negeri merilis tentang usaha-usaha kesadaran masyrakat untuk BAB-tersistem sedang digalakkan di India baik oleh pemerintah maupu masyarakatnya. Di dalam negeri dikenal dengan jambanisasi. Hingga materi kuliah Analisis Dampak mengenai Lingkungan (AMDAL) memberikan parameter kesehatan penduduk dengan mengukur jumlah jamban yang ada dalam suatu kawasan tertentu.

Tulisan ini mengesampingkan urusan pembiayaan fasilitas agar fokus dan memberikan harapan keberadaan fasilitas BAB-tersistem diselenggarakan. Beberapa teman sejawat dosen memberikan kabar bahwa terdapat bantuan dari beberapa departemen di pemerintahan, untuk pengadaan fasilitas pembuatan gas metan dan memfasilitasi untuk sistem pengelolaan lingkungan BAB dan pengelolaan kandang ternak. Hal ini merupakan kabar baik bahwa hal itu dapat dianggap sebagai TPA untuk fasilitas toilet bergerak, sebagai TPS, di area pengungsian. Tetapi bila keberadaan fasilitas pengelolaan lingkungan BAB untuk gas sangat jauh, bahkan tidak ada, maka pendekatan sistem kepada anggapan di atas diwujudkan berupa fasilitas tertentu. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Bagan Proses dan Hasil Pengelolaan Limbah Manusia sebagai Sistem untuk Pendekatan Pengelolaan area Pengungsi.

Pengelolaan fasilitas BAB sangat penting untuk menjaga kesehatan lingkungan ditinjau dari pencemaran kandungan bakteri E coli. Fasilitas dengan hasil akhir gas dan pupuk, masih memerlukan banyak proses, dimaksudkan dapat mengendalikan bakteri yang merupakan penyebab sakit diare dan paling membahayakan resiko meninggal dunia untuk orang yang terinfeksi bakteri itu. Pembuangan dengan cara menguburkan dalam tanah sangat dilarang disebabkan oleh kekhawatiran terbawa oleh air tanah yang tercemar bakteri tersebut.

Metode septic tank di area pengungsi dapat dipertimbangkan, bila area pengungsian tersebut ditinggalkan, masih dapat dimanfaatkan oleh publik. Disamping itu memerlukan waktu pembuatan relatif lama dan tidak segera dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu sistem pendekatan pada Gambar 1 dimungkinkan pemanfaatan segera dan terjaga kesehatan lingkungan area pengungsi. Teknologi pembuatan pupuk padat dari hasil akhir masih perlu proses-proses yang bertujuan peniadaan bakteri E coli dan pengeringan untuk pemanfaatannya.

Suatu Pengabdian kepada Masyarakat