Manajemen Obyektif Lingkungan Wisata Relegius

Ahmad Syauqi; Magister PSL

Manajemen sepadan dengan kata pengelolaan dimaksudkan terdapat hubungan-hubungan yang baik diantara komponen organisasi untuk mengurus aktivitas wisata relegius. Hubungan yang baik dapat diukur dengan tingkat pengetahuan masyarakat awam adalah dapat dirasakan pada tiap-tiap kebutuhan dan kepentingan orang yang berwisata (baca ziarah) ke makam para wali. Ukuran para awam dengan perasaannya lebih dominan dibandingkan dengan penggunakaan rasional. Hal demikian disadari dapat dilihat kehadiran umumnya di makam para wali tersebut. Oleh karena itu analisis yang dilakukan kepada manajemen wisata relegius dapat dikatakan pendekatan yang “pas” dengan merasakan kehadiran disetiap lokasi ziarah para sholeh sholihin.

Lokasi yang dimaksud bukan satu tempat dimana makam berada tetapi dimana dan apa saja yang terlibat dalam rangkaian terselenggaranya aktivitas. Pemegang kepentingan dapat dipilah seperti pemerintah, swasta, keluarga-keluarga, ataupun orang-perorang. Pemerintah berkepentingan kepada penataan daerahnya tingkat gubernuran hingga RT setempat. Selain itu pada msyarakat paternalistik sangat perlu ada di garda depan untuk urusan wisata-berwisata. Swasta mengurus dirinya sendiri dengan melihat peluang-peluang yang ada seperti tranportasi peziarah, akomodasi dan sebagainya sejak ditempat mereka yang mau berangkat hingga kedatangan di setiap tempat ziarah.

Satu pertimbangan penting adalah kebiasaan membuang sampah yaitu suatu barang/material berbentuk kering atau basah ke lingkungan. Kesadaran tiap individu adalah hal yang paling penting dalam pengelolaan barang buangan itu. Urusan barang buangan lainnya, yang telah  ada kesadaran, apakah termotivasi oleh peluang bisnis atau bukan, dapat dilihat dan dirasakan seperti tersedianya kamar mandi dan toilet. Urusan limbah ini di masyarakat saat sekarang telah meningkat kesadarannya dan keterlibatan sosial masyarakat ditiap wilayah telah nampak. Sehingga ditempat-tempat tersebut atau sepanjang jalan terasa kemudahannya.

Urusan sampah peziarah dapat dikelola dengan memberi pengetahuan lebih pada bagian-bagian aktivitas ziarah wali. Bagaimana kebutuhan pengetahuan tentang pengelolaan material/barang buangan (sampah)? Tujuan tulisan ini adalah untuk meningkatkan kesadaran pelaku yang terlibat dalam aktivitas wisata relegius.

Pola dan Persepsi Membuang Sampah

Para peziarah dapat digolongkan secara persepsional dalam persoalan barang buangannya, merupakan masyarakat dengan tradisi membuang material organik. Material ini sangat ramah pada lingkungan pada volume dan berat yang kecil, tetapi tidak ramah lingkungan bila dalam volume dan jumlah yang besar, seperti di Tempat pembuangan Akhir (TPA) dapat menimbulkan bau dan pencemaran. Masyarakat di daerah telah terbiasa membuang dengan pertolongan alam sekitar menyelesaikannya. Artinya di daerah desa (rural) pengelolaan sampah keluarga terbiasa dengan persepsi lubang-urug di pekarangan. Pada dekade saat ini daerah sub urban hingga urban telah ada intervensi pengelolaan dan keterlibatan sosial setempat seperti pola pada Gambar 1.

Berdasarkan anggapan tersebut ditempat pemberhentian bus utamanya dapat dilihat dan dirasakan pada momen jam-perjam pengelolaan sampah sangat lemah. Berdasarkan anggapan bahwa pengelolaan akan melibatkan struktur sosial setempat, maka dapat diduga terdapat kelemahan pengelolaan di tempat tersebut. Pengelolaan di tingkat wilayah RT dan RW telah banyak dipelajari seperti penelitian Utami pada tahun 2008 dan Syauqi pada tahun 2012.

screenshot 3

Gambar 1. Tahapan dan Pelaku Proses Pengelolaan Sampah Pola Wedomartani Sleman Yogyakarta Tahun 2006 (Utami dkk., 2008)

screenshot 2

Gambar 2. Tahapan dan Pelaku Proses Pengelolaan Sampah Pola Banjarsari Jakarta Selatan  Tahun 2006 (Utami dkk., 2008)

Pola seperti di atas dapat diterapkan di tempat-tempat pemberhentian bus, parkir kendaraan yang relatif kecil, dan konsentrasi peziarah lainnya. Pola diatas pada elemen rumah tangga dan tukang sampah (Gambar 2) dapat diganti dengan organisasi-organisasi yang telah dibentuk di tempat-tempat konsentrasi peziarah. Pembiayaan secara rasional dapat dipikirkan seperti urusan parkir kendaraan peziarah, pemilahan pengangkutan sampah dan urusan ini sewajarnya berkolaborasi dengan pemerintahan setempat.

Pemimpin ziarah dapat diikutsertakan tanggungjawabnya seperti bagaimana pengelolaan sampah di kendaraan yang dapat dengan mudah nantinya tidak membuat jorok/kotor lingkungan parkir terminal bus atau parkir peziarah. Hal demikian pada pengelolaan sampah dengan adanya plastic di Negara-negara telah maju dikenai pajak tersendiri. Artinya urusan buangan plastic yang tidak mempunyai nilai ekonomi dan justru membebani urusan maka dikenakan pajak. Bila hal ini dihubungkan dengan ada nilai ibadah dalam kebersihan maka penanganan sampah dan persepsinya tiap invidu, merupakan usaha ibadah pula.

Urusan pengelolaan (manajemen) by objective tentang sampah mulai dari daerah berangkat peziarah hingga di tempat tujuan dipersepsikan ibadah. Hal ini sama untuk setiap rombongan yang membaca doa keselamatan tiap berangkat, maka bernilai sama pula apabila setelah berdoa ada penjelasan bagaimana menangani sampah sejak ditempat duduk tiap kendaraan hingga nanti menyerahkan kepada siapa yang mengelola di tempat-tempat pemberhentian. Pembentukan persepsi sangat penting karena ada hubungan (Syauqi, 2013)  antara material/barang buangan (sampah) itu dengan persepsi sosial dan interaksi dengan organisasi sosial. Bila anggapan karakter paternalistik  secara umum ada pada masyarakat, pendekatan yang mungkin adalah memberikan keterangan/penjelasan disertai ada nilai ibadah dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Pembentukan persepsi dapat pula melalui suatu kampanye dengan tulisan yang menarik, pembentukan lingkungan dan penataan ruang terbuka. Anggapan yang digunakan dalam hal ini adalah masyarakat menengah kebawah umumnya senang dan nyaman pada tempat terbuka. Hal ini secara realitas dapat dilihat dibelahan dunia manapun, sangat penting memfasilitasi ruang terbuka dengan pendekatan pengelolaan yang modern. Interaksi antara sosial menengah dan bawah dapat dikombinasikan seperti fasilitas yang mudah dan nyaman untuk “anjungan tunai” atau ATM apakah beserta retail maupun tidak. Perlu diingat bahwa wisata relegius juga akan membelanjakan untuk kebutuhan dan oleh-oleh.

screenshot 1

Gambar 3. Bagan Kategori Stakeholders dan Kolaborasi Pengelolaan Lingkungan (Sumber: The World Bank, 1999 yang dikutip  oleh Carlsson and Berkes, 2005)

Sejalan dengan pengelolaan lingkungan tersebut dari berbagai pendekatan yang mungkin, upaya untuk meningkatkan persepsi aparat pemerintahan, swasta kecil, dan individu /keluarga peziarah pada uurusan kebersihan merupakan hal penting. Kolaborasi pembentukan karakter masyarakat tentang kebersihan dapat digalakkan dengan pendekatan terukur (Gambar 3). Penekanan terhadap material/barang yang dibuang oleh aktivitas wisata relegius sudah saatnya ada bentuk organisasi yang mengurus hingga “Lingkungan bersih, sehat, dan rasa nyaman” dapat terwujud.

Referensi

Carlsson, L. and F. Berkes. 2005. Co-management: Concepts and Methodological Implications. Journal of Environmental Management 75(2005):65-76. doi:10.1016/j. jenvman.2004.11.008. Retrieved December, 20th, 2011. http://www.elsevier.com/locate/ jenvman.

Utami, B.D., N.S. Indrasti dan A.H. Dharmawan. 2008. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Komunitas: Teladan dari Dua Komunitas di Sleman dan Jakarta Selatan. J. Sodality: Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi, dan Ekologi Manusia. 02(01):49-68. http://jurnalsodality. ipb.ac.id/jurnalpdf/edisi4-3.pdf. Diterima 5 Maret 2012.

Syauqi, A. 2013. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Perkotaan berdasar Proses Pemilahan Material Organik dan Persepsi Mayarakat di Kecamatan Klojen Kota Malang. Tesis. Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan (PSL) Program Pasca Sarjana Univ. Brawijaya. Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *