Ide dari dua basis non dan sains

Suatu kesadaran dalam diri seseorang telah diketahui oleh umum bahwa proses pembentukannya dilakukan melalui pendidikan. Pendidikan oleh masyarakat tertentu secara obyektif akan memperkuat budayanya sebab proses pendidikan dilaksanakan dengan pendekatan budaya mereka. Masyarakat ketimuran melaksanakan pendidikannya dengan pendekatan lebih besar dengan budaya ketimuran walaupun materi, tujuan bukan budayanya. Contoh dalam hal ini saat sekarang terjadi pengajaran tentang sains dilakukan dengan pendekatan budaya ketimuran. Tidak semua melaksanakan proses pendidikan sains seperti tersebut, tetapi secara umum terlaksana sebab bagaimana capaian kesadaran tentang sains bila pendekatan yang dilakukan peserta didik justru mendapatkan kebingungan dalam kehidupannya?
Pendidikan non sains yang telah terinternalisasi dalam diri seseorang tidak melulu melalui lembaga formal, tetapi dapat diperoleh di rumah atau keluarganya. Dua hal yang terinternalisasi dalam diri seseorang khususnya bila peserta didik memang berada dalam proses pendidikan tentang sains tetapi lingkungannya pada umumnya memiliki budaya non barat. Hal ini telah diketahui bahwa budaya yang menopang sains adalah dari barat. Tetapi sangat menarik dari akademisi yang menyatakan bahwa untuk keberhasilan kesadaran tentang lingkungan alam sekitar semua masyarakat di dunia perlu pemahaman sains yang baik.
Bagaimana bila terjadi suatu penalaran yang dikemukakan sekaligus menggunakan jalan pikiran yang berbeda basisnya. Disatu pihak basis penalaran berada pada non sains di lain pihak berbasis sains. Hal ini nampaknya mengemuka di masyarakat kita saat ini khususnya perdebatan tentang elit politik yang bersebrangan dengan kemauan umum /pendapat rakyat umumnya tentang masa depan demokrasi di Indonesia. Fenomena tentang hal tersebut sehari-hari telah menjadi suguhan media masyarakat dari berbagai bentuk.
Tulisan ini ingin mengemukakan tentang hasil intuisi tetapi memiliki fakta bahwa realitas penalaran memiliki kesamaan pandang dan simbol. Intuisi antara lain didasarkan atas kelebatan materi pikiran tentang suatu hal dan jelas hal ini merupakan basis non sain. Kelebatan pikiran yang memberikan simbol tentang keutuhan dan perpecahan kesepakatan tentang demokrasi di masa depan ada pada gambar di bawah ini.
IMG_20141004_193425
Fakta ditunjukkan oleh acara tayangan media massa yang disampaikan oleh I Gusman dari DPD Majelis Permusyawaratan rakyat (MPR). Pembicara yang ada saat itu adalah asosiasi pakar tata Negara dan pakar politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Fakta ini dapat diakses melalui sarana tertentu dari Metro TV dalam siaran High light di petang hari tanggal 4 Oktober 2014.
IMG_20141004_193411
Kesamaan pandang adalah apakah masyarakat Indonesia akan dipermalukan dari suatu moment tertentu yang belum menunjukkan keberhasilan proses pendidikan tentang budayanya?

Wallahu a’lamu bish-showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *