Asumsi, Fakta dan Implementasi Sumber Energi Biomassa dan Protein Hewani di Indonesia

Ahmad Syauqi

Negara Indonesia berdasarkan Ideologi Pancasila dan mempercayai adanya Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai bagian masyarakat yang menganut agama Islam mempunyai keharusan untuk mempelajari firman-Nya khususnya tentang alam lingkungan hidup. Artinya lingkungan sekitar sebagai habitat manusia diyakini telah ada petunjuk untuk itu. Pada paparan ilmiah hal tersebut dapat berfungsi sebagai asumsi untuk dasar pijakan berpikir. Secara logis lingkungan hidup pada wilayah peta Negara Indonesia ditempati oleh jutaan manusia yang membutuhkan energi dan pangan; juga makhluk hidup lainnya yaitu jenis hewan. Secara biologis terdapat rantai makanan berasal dari tumbuhan hingga manusia. Masyarakat Islam telah meyakini makhluk hidup telah banyak disebutkan dalam firman-Nya.

Pembicaraan tentang energi dan pangan akhir-akhir ini sangat intens secara nasional dengan berbagai asumsi dari kondisi real di lingkungan sekitar kita. Asumsi dikemukakan berdasar fakta-fakta yang digunakan dalam menyusun pengetahuan tentang keduanya. Pembicaraan bersifat ilmiah perlu mengemukakan asumsi-asumsi sehingga harapan kepada hasil diskusi dapat terarah. Oleh karena itu dapat dikemukakan dua asumsi yang dipakai dalam pembicaraan ini.

Pertama, bumi yang kita tempati merupakan habitat manusia hingga hari akhir dan karenanya terdapat ketersediaan bagi kehidupannya yang diiringi persyaratan tertentu atas perilaku manusia. Berdasar hal ini secara logis ketersediaan yang diciptakan oleh Tuhan berarti tiadanya kelangkaan terhadap sumber energi dan pangan. Kedua, asumsi hasil ilmu pengetahuan atas perilaku manusia selama ini telah terjadi kelangkaan dengan berbagai sebab yang timbul. Kedua asumsi itu menunjukkan saling bertolak belakang dan perlu pendekatan dalam mempelajarinya. Pada informasi yang sangat awal dari pergumulan masyarakat pemerintah, swasta dan domestik (pembagian sosial menurut AMDAL) digunakan untuk menyusun pikiran ini.

Bertujuan untuk sustainable development dan mengikuti salah satu definisnya adalah keikutsertaan menyumbangkan ide-ide dalam rangka pemberdayaan masyarakat tersebut. Oleh karenanya seperti lagu kebangsaan Indonesia; bangunlah jiwanya – bangunlah badannya.

Kebijakan penggunaan energi baru terbaharukan (EBT) dinyatakan melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 79 Tahun 2014 dan dari semua aspek pada tahun 2025 diharapkan dapat menyumbang 23% dan tahun 2050 sebesar 31% (Kompas, 2016a). EBT prioritas meliputi panas bumi, air, angin, surya, bioenergi (Kompas, 2016b) atau biomassa dan biofuel; semuanya diproduksi oleh alam dan biomassa dapat langsung digunakan seperti untuk menghasilkan panas (dibakar). Tetapi biomassa dapat pula digunakan untuk memproduksi jenis lainnya seperti bioetanol, biodiesel atau biogas. Bioetanol dapat diproduksi dari jagung, tebu atau jenis rumput yang dibudidayakan yang pada dasarnya banyak mengandung karbohidrat. EBT diprogramkan dapat menggantikan energi tidak dapat diperbaharui seperti bahan bakar fosil.

Pada tahun 2014 produksi minyak fosil 290 juta barrel sementara konsumsi BBM telah mencapai 449 juta barrel, minyak mentah yang diimpor sebanyak 121 juta barrel dan BBM 179 juta barrel (Panigoro, 2016). Cadangan energi fosil di Indonesia bakal habis 13 tahun lagi dengan asumsi 228 juta barrel pertahun, sedangkan gas bumi 34 tahun (Agustinus, 2016). Bahan bakar jenis bensin untuk motor 4 tak yang saat ini digunakan dengan pertimbangan emisi karbon, terdapat porsi campuran senyawa etanol. Porsi terbanyak 15% pada BBM jenis bensin untuk motor tersebut dapat menghemat jutaan barrel minyak fosil.

Di masyarakat Kabupaten Boalemo Gorontalo, bahan baku berupa nira tumbuhan aren (Arenga pinnata) telah digunakan untuk fermentasi etanol. Kompas (2016b) menurunkan laporan bahwa bioetanol digunakan untuk memasak sebagai pengganti gas atau minyak bumi; tiap 1 liter dapat memberikan panas api hingga 6 jam dengan asumsi 1 tetes/detik. Bahan baku nira aren berasal dari tanaman 15.000 pohon aren dalam areal Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) seluas 96.926 Ha. Pemanfaatan nira pohon aren atau air tebu tidak diperlukan sakarifikasi, dibanding sumber-sumber monosakrida dalam bentuk polimer seperti pati singkong dan sejenisnya, pati jagung, dan sagu.

Menurut Vitousek, penggunaan hasil produksi primer (fotosintesis) dalam ekonomi secara langsung maupun tidak langsung adalah 40% pada tumbuhan darat (Hadi, 2012). Oleh karena itu penggunaan bioenergi dari biomassa sangat perlu dikembangkan dan berdasarkan pendapat tersebut produk fotosintesis berupa karbohidrat masih sedikit pemanfaatannya. Penggunaan energi fosil dapat diganti dengan energi biomassa yang sangat melimpah dan dapat diartikan persediaan bahan baku EBT 60% tersedia dari fotosintesis belum digunakan.

Persaingan terjadi pada penggunaan produk primer untuk kepentingan energi terbaharukan dengan pangan/pakan. Hal demikian bila informasi dari penelitian bahwa bahan baku EBT 60% tersedia dari fotosintesis (produk primer) tidak perlu terjadi. Bahan baku EBT dari biomassa produk primer dapat seiring untuk pemanfaatannya. Kompas (2016c) menurunkan laporan bahwa  penurunan populasi sapi di Jawa Barat dan produksi susu sapi mengalami kesulitan memenuhi pakannya. Selanjutnya Menteri Pertanian di Jawa Tengah menyatakan perlu integrasi antara sistem peternakan melalui pemanfaatan hutan. Konsep pemeliharaan ternak dalam hutan diharapkan dapat meningkatkan populasi, yaitu tercukupi 50 kg rumput per ekor sapi. Hal lain adalah minimnya pakan hijauan juga menyebabkan angka bunting sapi rendah. Secara proses, ketersediaan pakan hijauan masih membutuhkan jerami dan adanya proses fermentasi yang melibatkan mikroorganisme dalam memenuhi kebutuhan pakan itu.

Pembicaraan di atas menunjukkan bahwa masih terdapat potensi 60% bagi ketersediaan sumber energi biomassa dan hal ini dapat mengeleminasi kelangkaan sumber. Implementasi yang mungkin adalah pemanfaatan lahan dan hutan yang memungkinkan bagi pemberdayaan masyarakat dan perlindungan lingkungan secara umum sebagaimana diamanatkan UU RI No. 32 Tahun 2009.

Referensi:

Kompas, 2016a. Dukungan Nonbank dibutuhkan Proyek Energi Terbaharukan Berprospek Baik. Segmen Ekonomi. Kamis 4 Pebruari. Hal. 19. Kolom 2.

_______, 2016b. Pembangunan Rakus Energi Fosil. Pemanfaatan Energi Baru Terbaharukan Masih Kecil. Berita Utama. Selasa 26 Januari. Hal. 1. Kolom 2 – 4.

_______. 2016c. Peternak Semakin Kesulitan Cari Pakan. Menteri Pertanian Ingin Intergrasikan Sapid an Hutan. Segmen Nusantara. Rabo 2 Maret. Hal 22. Kolom 4 – 7.

Panigoro, A. 2016. “Quo Vadis” Energi Bersih Indonesia. Segmen Opini Harian Kompas 11 Pebruari. Hal. 7 kolom 1-4.

Agustinus, M. 2016. Wawancara Khusus Dirjen EBTKE. Minyak Murah, bagaimana Nasib Energi Terbaharukan RI?. Akses Tanggal 16 Pebruari 2016. URL:http://m.detik.com/finance/read/2016/02/16/071030/3142796/ 459/minyak-murah-bagaimana-nasib-energi-terbaharukan-ri.

Hadi, S.P. 2012. Dimensi Lingkungan Perencanaan Pembangunan. Cetakan ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hal. 13.

Syauqi, A. 2016. Bahan Pembelajaran Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Pembukaan dan Orientasi Pertemuan I. Jurusan Biologi Fakultas FMIPA Univ. Islam Malang.

Suatu tulisan untuk Pengabdian kepada Masyarakat