Produk Vaksin Palsu sebagai Barang Sain-Teknologi dan Imunisasi

Masyarakat telah menerima produk vaksin untuk tujuan perlindungan dan pencegahan dari penyakit khususnya anak demi masa depan mereka. Indonesia mempunyai kepentingan kepada generasi penerus yang saat ini masih berusia kategori anak, agar masa depan bangsa ini dapat eksis dengan jaminan kesehatan mereka. Maksud dan tujuan yang mulia dalam bentuk program pemerintah sebagai penanggungjawab kesehatan masyarakatnya, telah dinodai oleh mereka yang memanfaatkan momen itu dengan memasok vaksin palsu. Suatu produk dari kemajuan Ilmu (Sain) dan Teknologi pengobatan manusia – penyakit sebab infeksi mikrobiologis, dibuat tidak memenuhi manfaat vaksin yang sesungguhnya; proteksi tubuh dan pencegahan penyakit yang menyebar di dalam suatu populasi. Vaksin merupakan material untuk menciptakan imunitas tubuh secara buatan dan kategori aktiv. Imunitas  pada tubuh dapat terjadi secara alami atau buatan, dengan teknik pasif maupun aktif.

Perkembangan material vaksin palsu yang telah diberikan kepada anak dapat dilihat dari sudut pandang sebagai barang teknologi. Saat sekarang dengan asumsi masih terdapat keamanan kontaminasi dan pengaruhnya pada tubuh, tidak tercapainya daya imun pasca imunisasi; pemerintah melakukan imunisasi ulang kepada penerima imunisasi-dengan-vaksin-palsu. Anak-anak (dengan orang tuanya) penerima imunisasi vaksin palsu diminta datang untuk pemeriksaan kesehatannya dan vaksinasi ulang. Termasuk mereka yang menduga terkena vaksin palsu tetapi belum menerima permintaan itu dapat menghubungi HALO KEMKES di nomor 1500567 (Kompas, Juli 2016a). Pada program Mata Najwa Media Massa Metro-TV hari Rabo malam tanggal 20 Juli 2016, menghadirkan unsur-unsur penting dalam masalah vaksin palsu yaitu menteri kesehatan, badan pengawasan obat dan makanan (BPOM), beberapa orang tua dari anak terkena vaksin palsu, kepolisian, yayasan konsumen Indonesia (YLKI) dan perwakilan ikatan dokter; berdiskusi masalah dan penanganan vaksin palsu. Tulisan ini memberikan padanan persoalan yang terjadi dipandang dari sudut vaksin sebagai barang teknologi.

Vaksin didefinisikan suatu persiapan/preparasi patogen atau produknya yang digunakan untuk menginduksi imunitas aktif terhadap penyakit yang spesifik. Vaksin untuk penyakit spesifik yaitu polio, antrax, hepatitis A, hepatitis B rabies dan sebagainya. Vaksin kategori pathogen yang dilemahkan dan vaksin inaktif. Vaksin diciptakan dan diberikan ke dalam tubuh seseorang atau anak agar tubuhnya aktif dapat melawan saat terjadi infeksi dengan suatu standar dan fungsinya itu. Sebagai suatu material atau bahan vaksin yang ternyata tidak memiliki standar dan fungsinya alias vaksin palsu dapat disamakan dengan kasus-kasus yang terjadi pada pembuatan barang teknologi lainnya seperti motor dan mobil.

Kasus yang terjadi pada motor atau mobil dan pembuatnya menemukan kelemahan kemudian terjadi kerugian akibat itu, produsen memanggil kembali untuk perbaikan. Kasus overheat akibat kelemahan pompa oli motor dan putusnya sabuk pengaman penumpang mobil diperbaiki oleh penanggungjawab dengan memanggil dan mengganti komponen sekaligus jaminan fungsinya pulih sebagaimana standarnya. Analog kasus itu untuk vaksin palsu, pemerintah sebagai penanggungjawab program telah memanggil kembali mereka penerima vaksin tidak memiliki fungsi imunitas yang diharapkan, untuk dilakukan vaksinasi ulang dengan jaminan vaksin asli.

Perbedaan pada kasus perbaikan komponen kendaraan dan perbaikan vaksinasi terletak pada penggunanya. Pengguna kendaraan itu adalah siapa yang telah membeli dari produsen kendaraan, tidak lain masyarakat. Tetapi vaksinasi kepada masyarakat pembeli vaksin itu adalah pemerintah dalam hal ini pelaksana program acara vaksinasi yaitu kementerian kesehatan. Kedua kasus tersebut secara resiko sama yaitu penggunanya.

Dalam konteks ini pembuat vaksin palsu memiliki tanggung jawab untuk memulihkan produknya yang tidak ada fungsi imunitas aktif dalam suatu populasi sebagaimana produsen motor dan mobil mengembalikan standar dan fungsi produknya. Apabila ini tidak dilakukan secara logis penjual produk vaksin terbeban untuk memasok vaksin asli. Pembuat vaksin palsu mengganti vaksin asli tidak lain melakukan pembelian kepada produsen yang sebenarnya sekaligus pengulangan keseluruhan acara vaksinasi itu. Berapa bagian dari anggaran Rp 1,2 Trilliun (Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan) telah terampas gara-gara vaksin palsu itu.

Disamping itu ada dimensi satu faktor waktu yang tidak dapat ditunda, artinya program pengulangan perlu segera mendapatkan vaksin asli agar jaminan proteksi individu generasi dan pencegahan penyebaran penyakit suatu populasi tercapai. Tidak dapat ditunda dan membiarkan masyarakat tanpa imunitas hanya menanti produsen vaksin palsu memasok vaksin asli. Kemudian pemerintah diam tanpa melakukan vaksinasi sebenarnya setelah kasus ini selesai.

Jaminan standar dan fungsi vaksin yang digunakan oleh acara program vaksinasi itu telah dapat dideteksi oleh aparat kepolisian sebagai unsur penanggungjawab pengguna yaitu pemerintah. Penangkapan telah didasarkan pada pemeriksaan dan indikasi awal sebagai acara penangkapan pembuat dan mereka yang mengedarkan vaksin palsu sebagaimana kandungannya (tulisan terdahulu). Keterlibatan unsur pemerintah dalam hal ini kepolisian dapat dianalogkan sebagai pengguna, seperti pengguna motor dan mobil sebelum mengacarakan produsennya. Tetapi produsen motor dan mobil yang memiliki kasus sebelum diacarakan ke pengadilan, ia lebih dahulu mengembalikan standar dan fungsinya seperti tertulis pada dokumen produk mereka yang dijanjikan. Janji berupa jaminan yang terdokumen dalam suatu produk teknologi berupa apasaja, terlebih berdasar sain dan teknologi dari suatu barang, menunjukkan tanggungjawab produsen. Masyarakat pengguna barang teknologi dapat memeriksa dokumen yang menyertai suatu produk teknologinya.

Ikatan dokter anak, dalam acara pada metro-TV tersebut, menjamin bahwa penggunaan vaksin asli yang dimasukkan ke dalam tubuh tidak menimbulkan persoalan atas penambahan vaksin dalam tubuh mereka yang terinjeksi vaksin palsu. Dasar hal ini dapat dikemukakan adalah ada pengulangan imunisasi pada rentang seorang anak dari kelahirannya hingga umur 18 th. Contoh vaksin Hepatitis B pemberiannya dibagi dosis pada umur kelahiran hingga 3 bulan, memasuki umur 2 bulan hingga 5 bulan, memasuki 6 bulan hingga 2 tahun, memasuki 3 hingga 18 th.

Tolok ukur pengaruh vaksinasi adalah terbentuknya imunitas tubuh seseorang atau anak terhadap suatu penyakit spesifik. Nester et all. (2007) menerangkan bahwa:

  • Vaksin dari pathogen yang dilemahkan terjadi imunitas dan perlu kehati-hatian karena berpotensi menjadi hilang sifat lemah-patogennya, sebab dapat bermutasi saat melakukan penggandaan selnya. Jenis ini pada vaksin polio dan karenanya penyimpanan dilakukan pada suhu almari es (refrigeration) agar tidak terjadi penggandaan sel atau pertumbuhan populasinya.
  • Vaksin inaktif berasal dari suatu mikroorganisma patogen dan terjadi gejala penyakit itu berdasarkan sel (inactivated whole agent vaccines), kepastian mikroorganisme itu telah mati adalah suatu material vaksin; kolera, influenza, rabies, polio. Tetapi jenis Toxoids merupakan toksin yang diinaktivasi sebab penyakit itu berdasar toksin yang dihasilkan oleh mikroorganismenya; difteri dan tetanus. Toksoid merupakan produk molekul kimia sehingga hanya dapat membangkitkan imunitas tubuh tanpa memberi pengaruh racun membahayakannya. Jenis lainnya adalah protein subunit vaccines yaitu pertusis dan rekayasa genetika (recombinant vaccines) pada virus hepatitis B dan polysachcharide vaccines untuk influenza dan penumoni sebab Haemophilus influenza tipe b dan Streptococcus pneumoniae. Para ahli memberikan hipotesis bahwa adanya imun terjadi bila tubuh melakukan deteksi oleh “sinyal bahaya” yang hal itu hasil asosiasi dengan kerusakan sel/jaringan tubuh. Tetapi sel kanker tidak dapat dideteksi oleh tubuh untuk menghasilkan imunnya.

Ukuran lainnya adalah perbedaan kasus-kasus terjangkitnya penyakit pertahun sebelum dan sesudah dilakukan imunisasi. Tujuan vaksinasi adalah terbentuknya imun atau kekebalan tubuh terhadap penyakit khas atas suatu infeksi. Oleh karena itu vaksinasi dapat pula disebut imunisasi. Anggota suatu populasi yang awalnya secara umum terjangkit penyakit difteri oleh sebab Streptococcus pneumoniae misalnya hingga ratusan bahkan ribuan dalam suatu wilayah, setelah imunisasi, dalam kurun waktu tertentu terjadi hanya puluhan anak atau orang; mempunyai makna vaksinasi atau imunisasi itu menunjukkan efeknya. Tolok ukur penurunan kasus penyakit itu merupakan efektifitas imunisasi dengan vaksin yang diberikan.

Referensi

Kompas. 2016a. Imunisasi Ulang Dijamin. Presiden Joko Widodo: Benahi Tata Kelola Produk Farmasi. Berita Utama. Selasa 19 Juli. Hal.1 Kol. 2 – 6; 15 Kol 4 – 7.

Kompas. 2016b. Korban dan Rumah Sakit Kebingungan. Perkuat Pengawasan Vaksin. Berita Utama. Kamis 21 Juli. Hal.1 Kol. 5 – 6; 15 Kol. 1 – 4.

Mata Najwa Metro-TV. 2016. Rabo Malam 20 Juli.

Nester, E.W., D.G. Anderson, C.E. Robert Jr., and M.T. Nester. 2007. Microbiology A Human Perspective. Fifth Edition. Mcgraw-Hill International Edition. McGrawHill Company. New York.

Okezone.com. 2016. Pengguna Motor Yamaha Recall Bukan Berarti Produk Gagal. Akses 20 Juli. URL: http://m.okezone.com/read/2016/06/23/15/1423318/pengguna-motor-yamaha-recall-bukan-berarti-produk-gagal.

Pikiran Rakyat.com. 2016. Sabuk Belakang cacat Toyota Tarik Hampir 3 Juta Kendaraan. Akses 20 Juli. URL: http//www.pikiran-rakyat.com/otomotif/2016/02/18/361496/sabuk-belakang-cacat-toyota-tarik-hampir-3-juta-kendaraan

Suatu Pengabdian kepada Masyarakat dari Dosen Mikrobiologi Lingkungan Jurusan Biologi FMIPA Unisma