EKSPERIMEN APLIKASI TEORI INFEKSI MIKROBA PENYEBAB DIARE

Ir. Ahmad Syauqi, M.Si.

Suatu perjalanan antar kota membuat konsumsi pangan untuk tubuh dilakukan secara acak, suatu kebutuhan kalori bagi ketersediaan energi. Pemilihan secara acak dilakukan kepada tempat-tempat penjual makanan atau mengkonsumsi bahan makanan yang diperoleh dimana perut telah menunjukkan rasa lapar. Konsekwensi hal itu tubuh memperoleh kemungkinan besar kontaminasi mikroorganisme yang tidak diinginkan dalam lambung maupun usus halus tubuh, dibandingkan dengan di rumah sehari-hari. Pada sudut pandang kebutuhan hidup mikroorganisme, ia terus tumbuh sebagai sifatnya untuk bergenerasi. Sel mikroba itu tersedia nutrisinya dan bersaing dengan tubuh host sehingga lipatan jumlah terjadi. Bila spesies Escherichia coli mengkontaminasi ia bergenerasi dalam waktu 20 menit. Ketersediaan kalori menjadi ada tambahan sel mikroba dan sebab jumlahnya atau istilah yang diberikan minimum infection dose (MID), mikroba menjadi penyebab dan menunjukkan gejala sakit.

MID E coli 0157:H7 (Bitton dalam Syauqi, 2011) telah menampakkan gejala sakit dan bahkan kematian hanya 100 sel berada dalam perut kita. Bila kita hitung waktu sejak ia masuk ke perut 5 sel saja maka dalam waktu 100 menit atau sekita satu setengah jam kemudian telah menjadi 160 sel. E coli pada umumnya mempunyai MID 106 – 108 sel dalam tubuh dan menunjukkan gejala sakit yang disebabkannya. Oleh karena itu banyak kasus yang terjadi akibat kesalahan penyediaan makanan, beberapa jam kemudian telah jatuh sakit.

Pengalaman pribadi ingin dituangkan dalam pengobatan berdasarkan data gejala yang terjadi pada tubuh dengan penggunaan antibiotik. Berdasarkan tabel yang disebutkan oleh Jawetz et al. (1972) untuk gram negatif ada antibiotika prioritas dan alternatif untuk pengobatannya, demikian pula untuk kategori bentuk batang, bulat dan gram positif. Antibiotika memiliki dosis masing-masing agar tidak mempunyai efek lainnya selain untuk membunuh mikroba itu.

Kasus diare ditandai dengan gejala adanya feses cair dan berkali-kali untuk pergi ke toilet. Gejala pertama feses cair dan adanya gas yang banyak dapat diduga oleh adanya mikroba yang telah menginfeksi ke tubuh lewat makanan atau minuman. Kejadian seperti ini akan menyulitkan dalam bepergian karena tidak mungkin pada suatu waktu tertentu dimana tubuh membutuhkan toilet akan tersedia dan bila mau akan permisi kepada rumah orang lain; tidak memungkinkan untuk dilakukan. Pertimbangan itu membuat perlu eksperimen tentang aplikasi pengetahuan infeksi mikroba penyebab diare dan uji yang dikenakannya.

Eksperimen itu adalah sebagai berikut:

  • Gejala pertama telah nampak feses yang encer dan adanya banyak gas, seperti dirasakan kembung.
  • Terulang diare pada selang waktu 1 jam
  • Eskperimen: meminum Chlorampenicol 500 mg untuk berat badan sekitr 60 kg. Sebagai antibiotika alternatif untuk Enterobacter, Proteus vulgaris, Klebsiella, dan Vibrio menurut Jawetz et al. (1972); utama untuk Pseudomonas dan Salmonella; dosis sebenarnya adalah maksimum 3 gram perhari untuk orang dewasa atau sekali minum 1 gram. Lebih dari dosis yang diperbolehkan akan mengakibatkan bentuk yang tidak normal pada sel-sel darah.
  • Terulang diare 3 jam sejak gejala awal.
  • Eksperimen: memimun obat anti diare yang diperkenankan dan dianjurkan.
  • Terulang diare untuk 5 jam sejak awal gejala.
  • Jam ke enam meminum lagi 500 mg Chloramphenicol.
  • Jam ke 8 terulang diare dan minum obat anti diare yang diperbolehkan dan dianjurkan.
  • Tidak terjadi lagi diare dan melanjutkan meminum antibiotika untuk tiap minum 500 mg hingga hari kedua.

Pada kondisi bepergian untuk kasus tersebut sangat penting untuk mengetahui keberadaan toilet di tempat umum sehingga hanya dengan cara membayar kondisi badan sakit banyak tertolong. Selang waktu 3 jam dalam pengamatan terakhir tersebut diatas, toilet yang tersedia ditempat umum akan mudah terjangkau walaupun menggunakan angkutan umum.

Antibiotik untuk derita sakit yang umum, apotik telah banyak memperbolehkan tanpa resep dokter seperti kasus di atas atau luka-luka pada kulit hingga mengeluarkan darah dan jaringannya damage. Tetapi sebagaimana tiap antibiotika mempunyai efek samping seperti dikemukakan di atas seyogyanya bagi yang tidak mempunyai dasar pengetahuan mikrobiologi, perlu mendapat petunjuk dokter.

Referensi:

Jawetz, E., J.L. Melnick and E.A. Adelberg. 1972. Review of Medical Microbiology. Maruzen Asian Edition. Lange Medical Publication Maruzen Company Limited. Tokyo. P 106 – 127.

Syauqi, A. 2011. Teori dan Praktek Mikrobiologi Lingkungan Peranan Mikroorganisme dalam Kehidupan. Edisi IV. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Islam Malang (UNISMA). P 58 – 59.