Analogi Penerapan Nilai Koefisien Poisson dalam PPKM Covid-19

Ahmad Syauqi*);

Sebagai anggota Pusat Studi Kelestarian dan Keseimbangan Lingkungan (PUSDI-K2L) FMIPA Universitas Islam Malang (UNISMA)

Tingkat positif hasil tes Covid-19

Peristiwa penyakit Covid-19 telah membuat banyak tatanan baru dalam kehidupan kita manusia. Interaksi sosial dan interaksi dengan makhluk lainnya khususnya diketahui ada bahaya yang mengancam apabila tidak hati-hati berinteraksi dengan hewan liar. Manusia yang dianggap menjadi sentrum dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, telah banyak dan harus melakukan penyesuaian akibat kedatangan virus corona penyebab Covid-19. Artinya penyakit itu telah memberikan pelajaran bahwa keseimbangan dengan lingkungan menjadi perhatian dan manusia merupakan bagian kecil dalam keseimbangan alam. Diri kita manusia telah dapat digunakan untuk alam kehidupan virus corona berkembang biak dan sebagai ciri utama makhluk hidup kemudian menjadi tampungan (reservoir). Sifat selanjutnya yang dimiliki oleh pathogen virus, mempunyai kekhususan untuk berkembang biak seperti virus polio ada dalam sel-sel syaraf, virus influenza dan corona (covid-19) berada dalam sel-sel jaringan organ pernafasan.

Peristiwa penyakit Covid-19 telah membuat banyak tatanan baru dalam kehidupan kita manusia. Interaksi sosial dan interaksi dengan makhluk lainnya khususnya diketahui ada bahaya yang mengancam apabila tidak hati-hati berinteraksi dengan hewan liar. Manusia yang dianggap menjadi sentrum dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, telah banyak dan harus melakukan penyesuaian akibat kedatangan virus corona penyebab Covid-19. Artinya penyakit itu telah memberikan pelajaran bahwa keseimbangan dengan lingkungan menjadi perhatian dan manusia merupakan bagian kecil dalam keseimbangan alam. Diri kita manusia telah dapat digunakan untuk alam kehidupan virus corona berkembang biak dan sebagai ciri utama makhluk hidup kemudian menjadi tampungan (reservoir). Sifat selanjutnya yang dimiliki oleh pathogen virus, mempunyai kekhususan untuk berkembang biak seperti virus polio ada dalam sel-sel syaraf, virus influenza dan corona (covid-19) berada dalam sel-sel jaringan organ pernafasan.

Pencegahan virus untuk sampai kepada tempat kehidupannya, dikenal dengan tananan 5 M; memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas – interaksi dan menjauhi kerumunan. Tatanan lainnya bagi masyarakat pemerintah adalah 3T; testing,tracing dan treatment yang dilakukan oleh departemen kesehatan.

Covid-19 merupakan peristiwa pandemi dan pengendaliannya dilakuan melalui tolok ukur seperti berapa banyaknya jumlah yang meninggal (kematian), jumlah kesembuhan dibanding dengan keseluruhan yang telah terjangkit (positif). Tolok ukur rasio kematian dan terjangkit dapat digunakan untuk maksud perbaikan pelayanan dalam penanganan kepada yang sakit Covid-19. Tolok ukur tingkat jumlah yang positif terjangkit dan jumlah tes dimaksudkan untuk (Dowdy and D’Souza, 2020); tingkat penyebaran/transmisi virus corona SARS Cov-2 pada suatu komunitas dan apakah telah cukup berarti berkaitan dengan jumlah masyarakat yang di tes. Semakin tinggi persentase yang terjangkit maka merefleksikan bahwa terdapat infeksi yang tinggi atau sedang terjadi suatu transmisi virus antar orang dalam jumlah yang tinggi pada suatu komunitas masyarakat yang dites.

Ukuran nilai yang tinggi diberikan oleh WHO adalah di atas 5% dan perlu dilakukan pembatasan atau penerapan 3 M yang ketat. Suatu kawasan dapat dilonggarkan kembali apabila dalam dua minggu telah berada pada nilai kurang dari 5%. Nilai 5% merupakan suatu nilai rasio threshold yaitu tiap 100 orang dalam komunitasnya ada < 5 orang yang terjangkit dalam kurun waktu 2 minggu.

Metode dan Analisis

Metode merupakan suatu cara yang didalamnya terkandung suatu banyak tahapan dan masing-masing tidak dapat dipisahkan satu tahap dengan tahap lainnya, atau suatu cara yang didalamnya terkandung tahapan yang tersistem. Cara untuk meneliti (research) merupakan suatu metode karena didalamnya terdapat rentetan tahapan yang tersistem untuk memperoleh data menuju suatu kesimpulan. Salah satunya adalah cara mengambil contoh (sampling) dan tuntutan yang diberikan yaitu bagaimana contoh yang diambil akan mewakili atau dapat merepresentasikan suatu peristiwanya. Bagaimana cara yang diambil untuk suatu tujuan apakah Covid-19 pada kawasan kecamatan telah menyebar (dispersion), mengelompok atau acak?

Saat sekarang telah diterapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) berskala mikro yang berlangsung pada 9 – 22 Februari 2021 (Irawan dkk., 2021) yang mencakup tingkat RT/RW (Rukun Tetangga – Rukun Warga) di kota/kabupaten agar dapat ditekan penyebaran Covid-19 dengan mengetahui tingkat kasus positif (terjangkit). Jumlah penduduk dalam satu RT biasanya kurang dari 100 KK oleh karena itu data dapat diperoleh dari hasil sampling pada tingkat RW yang didapatkan secara acak (statistika) di tingkat RT.

Penekanan kawasan mikro secara metodik pada suatu survey dapat dianalogkan dengan metode untuk melacak keberadaan larva mosquito (Syauqi, 2015) apakah telah menyebar, mengelompok, atau sedang acak sebarannya melalui analisis statistika nilai koefisien sebaran Poisson (KS). Suatu kawasan RT/RW adalah kawasan yang terdefinisi secara tetap, dan bila dibandingkan dengan pengambilan sampel secara acak; selama ini misalnya di kawasan bisnis (mall), atau kawasan pariwisata dilakukan swab untuk sampel virus corona.

Pada PPKM untuk pengambilan keputusan, kawasan kelurahan/desa yang mana dalam kecamatan perlu pembatasan atau pelonggaran aktivitas; diperlukan perabaan kondisi sebaran virus penyebab covid-19.

Penerapan analisis sebaran virus dapat dianalogkan dengan jumlah larva mosquito dengan jumlah kategori tingkat positip lebih dari 5% seperti diatas. Artinya analogi keberadaan larva mosquito dalam suatu kecamatan apakah beberapa RT/RW kelurahan/desa sedang terkelompok, sedang menyebar sangat tinggi atau sporadis/acak; tinggal mengganti larva mosquito dengan tingkat postif <5% atau >5%. Data yang dianalisis dapat dimasukkan ke dalam Tabel 1.

Kegunaan nilai KS dapat diterapkan untuk tingkat kelurahan/desa atau bahkan wilayah tingkat II. Otoritas wilayah dapat melakukan rencana-rencana pencegahan yang tepat apabila kesimpulan nilai KS <1 berarti bersifat acak dalam kawasan dan KS>1 berarti mengelompok dengan tingkat dispersi transmisi virus corona yang tinggi diantara warga dalam kawasan. Oleh karena itu metode dan analisis nilai koefisien sebaran Poisson dari data pada masa PPKM ini dapat memberikan aksi lebih selain kuratif yang selama ini dengan teknik isolasi.  

Referensi

Dowdy, D and D’Souza, G. 2020. Covid-19 Testing: Understanding the “Percent Positive”. John Hopkins Bloomberg School of Public Health. Akses Tanggal 9 Pebruari 2021. URL:http://jhsph.edu/covid-19/articles/covid-19-testing-understanding-the-percent-positive.html

Isna, KI., Sulistyo, PD. dan Judith J., MP. 2021. Efektifitas PPKM Mikro tentukan Pemulihan Ekonomi. Rubrik Ekonomi. Akses Tanggal 9 Pebruari 2021. Kompas online.

Syauqi, A. 2015. Biostatistika Kuantifikasi Parameter Statistika Survey dan Eksperimen Biologi. FMIPA Unisma. Malang.

*) Suatu pengabdian kepada masyarakat.